Lelaki dari Tlatah Blambangan

29/01/2018
197 Views

Esai : Mochtar W Oetomo

Dua hari, Sabtu-Ahad (27-28 Januari 2018), saya berkesempatan tetirah di Bumi Blambangan. Tlatah Kabupaten Banyuwangi yang dalam beberapa tahun terakhir bisa dibilang menjadi kabupaten paling masyhur di Jawa Timur. Semerbak informasi yang serbawangi dan harum dari waktu ke waktu terus menyeruak dari tanah ujung timur ini. Festival budaya yang tiada jeda, investasi yang terus tumbuh dan berkembang, infrastruktur yang makin komplit dan menunjang, kunjungan wisata yang terus dan terus meningkat draktis, geliat ekonomi rakyat yang kian menggembirakan hingga makin turunnya angka kemiskinan adalah capaian-capaian fantastis Banyuwangi yang menjadi buah pena bagi para jurnalis dan buah bibir bagi rakyat Jatim. Dan ketika saya berkesempatan untuk membuktikan semua kabar wangi dan harum itu, sungguh saya hanya bisa berujar dalam hati : ya ya ya.

Begitu molek dan cantiknya Banyuwangi, hingga entah berapa kali sudah Khofifah, Gus Ipul dan Emil Dardak berkunjung ke tanah Blambangan, untuk sekadar menyapa rakyat atau kampanye dalam arti sesungguhnya. Bersamaan dengan kedatangan saya pada hari Sabtu (27/1) Bandara Banyuwangi, penuh sesak dengan gegap gempita kader PDIP yang bersiap menyambut kedatangan Puti Guntur Soekarno, sementara di ujung lain Banyuwangi Emil Dardak tengah memompa motivasi para relawan. Sehari kemudian, Ahad (28/1), ganti Gus Ipul mendarat, menyusul Puti untuk bergerilya menyapa rakyat Banyuwangi. Ya ya ya. Secara geopolitik pun, Banyuwangi telah menjelma menjadi tlatah pertarungan yang penting bagi para kandidat gubernur dan wakil gubernur dalam kontestasi Pilgub Jatim 2018.

Ya ya ya. Sejak Banyuwangi dipimpin oleh Bupati Abdullah Azwar Anas tahun 2010, tlatah Osing ini berhasil menjelma menjadi daerah yang diperhitungkan. Bukan hanya sekadar pada level regional Jatim, bahkan hingga level nasional dan internasional dengan begitu banyaknya penghargaan dari beragam kategori yang berhasil di raihnya. Belum genap 10 tahun memimpin Sang Bupati Muda telah berhasil menembuhkan kembali rasa bangga rakyat sebagai kawula Banyuwangi. Dalam telisik saya ke beberapa warung kopi di Tlatah Blambangan, tampak sekali rasa percaya diri dan bangga di dada rakyat sebagai bagian dari capaian-capaian sukses yang dicanangkan oleh Bupati mereka, Abdullah Azwar Anas. Mereka bisa berdiri terhormat diantara daerah-daerah lain di Jatim bahkan di Bumi Nusantara.

Ya ya ya. Epik yang saya alami selama dua hari di Banyuwangi tanpa sengaja mengingatkan saya pada seorang Lelaki dari Tlatah Bambangan. Menak Jingga. Adipati Blambangan era 1420 an yang distereotipkan sebagai seorang lelaki buruk rupa dan buruk laku oleh kekuatan dominan Majapahit. Namun tetap menjadi pujaan bagi seluruh rakyat Blambangan. Bukan hanya karena kesuksesan kepemimpinannya dalam memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Blambangan. Bukan pula hanya karena keberhasilannya dalam menciptakan rasa aman bagi rakyat pasca-keberhasilannya menumpas huru-hara Kebo Marcuet.

Lebih dari itu Adipati Menak Jingga telah berhasil menorehkan banyak prestasi yang membuat seluruh rakyatnya bangga dan berbesar hati sebagai kawula Tlatah Blambangan. Dengan kesejahteraan yang merata, keamanan yang terjaga, angkatan perang dan kepemimpinan yang kuat, rakyat Blambangan merasa mampu berdiri sejajar dan bahkan lebih dibanding Kadipaten-Kadipaten lain di Bumi Nusantara. Kebanggaan yang makin menjadi-jadi manakala Negara Adidaya Majapahit pun merasa segan dan gamang saat harus berkonfrontasi langsung dengan kekuatan angkatan perang Bumi Blambangan. Ya ya ya. Kadipaten Blambangan di bawah Menak Jingga telah menjelma menjadi salah satu atau bahkan satu-satunya kekuatan penanding yang amat diperhitungkan dan ditakuti oleh Majapahit yang ketika itu dipimpin oleh seorang ratu yang kuat dan masyhur, Ratu Kencana Wungu (1427-1447). Ya ya ya. Semua capaian-capaian itu diperoleh karena kepemimpinan sukses Adipati Menak Jingga. Maka wajar jika rakyat Blambangan amat memuja dan mencintainya.

Sebagaimana rakyat Banyuwangi begitu memuja dan mencintai Abdullah Azwar Anas, kurang lebih begitulah puja dan cinta rakyat Blambangan di masa itu pada Adipati Menak Jingga. Rakyat Blambangan bahkan tak peduli dengan segala macam propaganda Majapahit bahwa Menak Jingga adalah Adipati yang kurang ajar karena berani mbalelo pada Majapahit bahkan berani kurang ajar hendak memperistri Ratu Kencana Wungu. Sebagaimana tak pedulinya sebagian besar rakyat Banyuwangi ketika saya bertanya pada beberapa diantara mereka, “Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr setelah Abdullah Azwar Anas gagal maju Pilgub Jatim karena tersandung foto paha?”. Jawab mereka, ” Kami tidak peduli dengan semua itu. Yang kami tahu Bupati Anas telah memimpin Banyuwangi dengan baik dan sukses. Membuat kami bangga menjadi rakyat Banyuwangi”. Ya ya ya. Begitulah begitulah begitulah. Apa hendak dikata.

Sama halnya dengan keyakinan rakyat Blambangan. Andai saat itu Adipati Menak Jingga tidak tersandung pengkhianatan perempuan-perempuannya, yakni Wahita dan Puyengan yang mencuri gada Wesi Kuning dan pedang Sokayana, tentu bukan hal yang sulit bagi Menak Jingga untuk membunuh Damar Wulan, Senapati utusan Majapahit. Andai Damar Wulan berani menghadapinya dengan fair dan jantan satu lawan satu, dan bukan meminjam kekuatan rayuan Wahita dan Puyengan, maka barangtentu ceritanya bisa menjadi lain. Bisa jadi bukan hal yang tak mungkin bagi Menak Jingga dan Blambangan untuk menaklukkan Majapahit dan menjelma menjadi penguasa baru negeri Adi Daya. Sesungguhnya kemenangan Damar Wulan atas Menak Jingga dan kemenangan Majapahit atas Blambangan dicatat oleh sejarah, ada peran penting bujuk rayu perempuan di atas kuatnya angkatan perang, kesaktian panglima perangnya dan canggihnya strategi tempur. Kemenangan Damar Wulan dan Majapahit yang diiring tepuk sorai gegap gempita rakyat Majapahit pada saat bersamaan diiring senyum kecut dan cibir remeh rakyat Blambangan.

Ya ya ya….. andai saja Abdullah Azwar Anas tidak tersandung skandal pengkhiatan foto paha bisa jadi akan lain ceritanya. Tentu dia tidak akan diganti oleh Puti dan tentu saat ini masih menjadi pemimpin pasukan besar dalam upayanya menaklukkan pasukan Khofifah-Emil Dardak dan merebut kursi Jatim 2. Meski belum tentu menang. Setidaknya dukungan militan dari rakyat Blambangan sedikit banyak akan membuat Khofifah dan Emil banyak berhitung. Maka tidak heran, jika kini Bumi Blambangan menjelma menjadi geopolitik yang penting bagi kedua paslon, baik Gus Ipul-Puti maupun Khofifah-Emil. Kedua paslon bergilir ganti mengunjungi Tlatah Bambangan melebihi derah lain sesungguhnya bukan sekedar untuk menaklukkan hati satu juta lebih rakyat Blambangan. Lebih dari itu adalah upaya transfer device atas segala kesuksesan yang telah dicapai oleh Tlatah Blambangan. Lebih dari itu adalah hampir pastinya liputan besar-besaran media terhadap apa saja yang berlatar Banyuwangi. Dan lebih dari itu lagi adalah kemungkinan untuk mendapatkan dukungan baik langsung ataupun tidak dari Abdullah Azwar Anas dengan segenap potensi yang dimilikinya.

Ya ya ya. Begitulah. Pilgub Jatim 2018 telah menjadi medan pertarungan yang serba mungkin. Hal-hal yang tidak diperhitungkan dan dianggap remeh dalam momentum yang tepat bisa saja menjelma menjadi faktor yang sangat menentukan kemenangan dan juga kekalahan. Dalam pertarungan head to head yang setanding dan sebanding kelemahan dan kesalahan sedikit saja bisa menjadi bahan eksploitasi bagi musuh untuk menghancurkannya. Sebaliknya keunggulan dan kelebihan yang sedikit saja bisa diekplorasi dengan taktis dan strategis untuk meneguhkan kemenangan. Siapa yang bisa menciptakan dan memanfaatkan momentum sekecil apapun, dialah yang lebih berpeluang untuk menang. Belajarlah dari Damar Wulan yang bisa memanfaatkan kelemahan Menak Jingga yang tersimpan pada sosok Wahita dan Puyengan. Dan yang merasa lebih kuat, belajarlah dari epos sedih Lelaki Dari Tlatah Blambangan, Menak Jingga dan Abdullah Azwar Anas. Waspadalah……waspadalah….!!!

*) Penulis adalah dosen Universitas Trunojoyo Madura

Leave A Comment