Kunjungan ke Tanjung Bumi, Khofifah Borong Batik Tulis Madura 

Portaltiga.com – Kunjungan Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ke pulau garam disempatkan untuk menyambangi kampung batik di Paseseh, Tanjung Bumi, Bangkalan, Sabtu (24/2/2018).

Di kampung batik itu, mantan Menteri Sosial itu bercengkrama dengan para pembatik tulis yang sampai kini masih bertahan. Para pembatik ini terbilang mulai langka lantaran saat ini sudah banyak pembatik yang beralih ke digital printing.

“Ini berapa lama membuatnya?” tanya Khofifah sembari mencoba mencanting kain batik.

Ia sempat kaget lantaran wanita yang sudah paruh baya itu menjawab untuk satu potong batik gentongan itu bisa dibuat dalam waktu dua sampai tiga tahun. Namun dijualnya per potong hanya Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta.

Tak hanya mencoba proses pencantingan, namun Khofifah juga menengok proses pencelupan kain untuk pewarnaan dan melunturkan malam.

Kedua proses itu masih sangat tradisional dan kurang perhatian dengan keselamatan kerja. Hanya menggunakan tong yang dipanaskan dengan tungku perapian.

Namun dari hasil dan kualitas batik yang dihasilkan di kampung ini memang dikatakan Khofifah sangat bagus dan teruji kualitasnya.

Bahkan ia sampai memborong lebih dari empat potong kain batik. Ada yang jenis gentongan sarimbit, dan batik jenis bangopai.

“Saat ini saya berada di Tanjung Bumi, satu kekuatan yang luar biasa yang dimiliki masyarakat di sini adalah budaya batik tulis. Kalau orang sudah bilang Tanjung Bumi, maka orang akan identiikasi batik tulis di Tanjung Bumi,” kata Khofifah.

Terlebih saat ini sudah tidak mudah menemukan pembatik tulis. Di beberapa daerah sudah mulai mengarah ke digital printing.

“Nah di Madura ini sesimpel apapun, mereka sangat mempertahankan batik tulis. Apalagi tadi ada yang rumit, ada yang dibuat dua tahun, dijual Rp 3,5 juta. Betapa sebetulnya ini bagian dari heritage budaya batik tulis di Tanjung Bumi Bangkalan,” ucap mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini.

Satu yang dicatat Khofifah dari kunjungan ke kampung batik ini, mereka butuh adanya bantuan akses untuk pengerjaan batik tulis di Tanjung Bumi. Yaitu tentang akses pasar dan  masalah keselamatan kerja.

“Itu yang menjadi catatan. Butuh sentuhan untuk mereka yaitu akses pasarnya, juga keselamatan kerja, ini yang harus difasilitasi,” kata Khofifah.

Sentuhan fasilitas ini harus diberikan pemerintah agar warisan budaya batik tulis bisa terus terjaga di Madura.

Sementara itu, Diana Hariyadi, tuan rumah pembuat batik yang dikunjungi Khofifah, mengatakan kedatangan Khofifah di sini sangat membantu pemasaran batik mereka.

“Tadi lebih dari Rp 8 juta ibunya beli batik kami. Ada yang batik gentongan tiga potong, dan batik jenis lain juga, alhamdulillah,” kata Diana.

Menurutnya, proses pembuatan batik tulis ini memang membutuhkan waktu yang lama. Sampai lebih dari dua tahun untuk pewarnaannya.

Namun ia mengatakan, batik Tanjung Bumi ini khas lantaran kualitas batiknya tidak mudah luntur.

“Punya kita hanya luntur sekali saat pencucian pertama kali. Setelah itu, semakin dicuci warnanya makin bagus,” ucapnya.

Kalau untuk proses pembatikannya, disampaiman Diana biasanya rata-rata membutuhkan waktu satu sampai dua bulan.

“Pasar kami sudah masuk ke banyak daerah. Ada di Malaysia, Makkah, dan banyak lagi, tergantung pemesanan,” pungkasnya.

Khofifah sendiri tidak hanya memborong batik Madura di Tanjung Bumi. Namun saat di Pasar Tanah Merah, Khofifah juga memborong sebanyak 16 batik di pasar tradisional tersebut. (tim/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION