Khofifah, Kartini Masa Kini Pembela Nasib Perempuan

Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.”

Kutipan di atas ditulis pejuang perempuan yang menjadi inspirasi perempuan Indonesia masa kini, Raden Adjeng Kartini dalam karyanya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Lewat tulisannya ini menyuntik semangat perempuan Indonesia untuk merealisasikan potensinya.

Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879 dari pasangan M.A. Ngasirah dan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Kartini. Dari pendidikan yang diperoleh, Kartini mulai melakukan perlawanan karena pada saat itu perempuan Indonesia tingkat status sosialnya masih sangat rendah. Lewat surat-surat yang dikirimnya pada seorang teman di Belanda, Kartini menuliskan perjuangannya untuk meningkatkan status sosial perempuan Indonesia.

Kelahiran Kartini pada 21 April, menjadi tonggak simbol kebangkitan kaum perempuan. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres (Keputusan Presiden) RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Peran Nyata Pejuang Perempuan Masa Kini
Di era modern saat ini, semangat Kartini masih melekat pada perempuan Indonesia. Semangat tersebut ada pada calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Sebelum menjadi kandidat, Khofifah sudah lama terlibat dalam urusan sosial dan pemberdayaan perempuan.

Semua berawal dari saat Khofifah menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI periode 1995-1997. Komisi VIII DPR RI ruang lingkupnya meliputi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Khofifah menjadi pembeda di antara anggota parlemen yang didominasi kaum adam. Kegigihannya bak mengejawantahkan kalimat ‘Aku mau! membuat kita mudah mendaki puncak gunung’ yang dtuliskan Kartini.

Perjuangan Khofifah menyuarakan kaum perempuan semakin nyata saat dipilih oleh Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masuk dalam Kabinet Persatuan Nasional. Khofifah yang merupakan murid kesayangan Gus Dur ditempatkan menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Di saat yang bersamaan, Khofifah juga dipercaya menjabat Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Di level internasional, Khofifah banyak terlibat dalam konferensi internasional organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membahas soal pengembangan perempuan dan anak. Khofifah dipercaya menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam “Women 2000, Gender Equality, Development and Peace for the Conventi on on The Elliminati on of All Forms of Discriminati on Against Women” di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat pada 28 Febuari 2000.

Khofifah juga diamanati sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam “Women 2000, Gender Equality, Development and Peace for the Twenty First Country” Sidang Khusus ke-23 Majelis Umum PBB, di New York, Amerika Serikat pada 5-9 Juni 2000.

Saat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta Kepala BKKBN, Khofifah juga tetap aktif di Nadhalatul Ulama (NU), tempat dirinya bernaung. Sejak tahun 2001, Khofifah terpilih menjadi Ketua Muslimat NU. Muslimat NU merupakan organisasi sayap NU yang bergerak dibidang pemberdayaan perempuan. Hingga saat ini, Jamaah Musimat NU masih mempercayai Khofifah sebagai ketua hingga tahun 2021 nanti.

Lama tak masuk dalam jajaran menteri, Khofifah kembali terpilih masuk dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi menempatkan Khofifah sebagai Menteri Sosial. Selama menjabat sebagai Menteri Sosial, Khofifah banyak menghasilkan program-program yang pro rakyat khususnya pada perkembangan keluarga, perempuan dan anak. Salah satu program yang paling populer dari Khofifah adalah Program Keluarga Harapan (PKH)

PKH merupakan program pemberian bantuan sosial pada keluarga kurang mampu. Melalui PKH, Khofifah mencoba mengentaskan kemiskinan dengan cara yang cepat, khususnya kemiskinan kronis. Melalui PKH, keluarga kurang mampu bisa mendapat fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik). PKH juga diapresiasi oleh Bank Dunia sebagai program dengan biaya paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan menurunkan kesenjangan antar kelompok miskin.

Setelah sukses menjadi Menteri Sosial, Khofifah merasa terpanggil untuk pulang kampung ke Jawa Timur. Sosok yang disebut Gus Dur Srikandi NU ini mendapat sokongan dari masyarakat untuk mengabdi di tanah kelahirannya. Apalagi dari data yang Khofifah miliki selama menjadi Menteri Sosial, angka kemiskinan di Jawa Timur sangat tinggi, khususnya ketimpangan kemiskinan antara kota dan di desa.

“Kemiskinan di kota 7,7 persen. Sementara kemiskinan di desa mencapai 15,8 persen,” ujar Khofifah.

Karena itu, Khofifah memberanikan diri untuk mundur sebagai Menteri Sosial dan memilih maju menjadi Cagub Jawa Timur berpasangan dengan politisi muda yang juga menjabat sebagai Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak. Keduanya lalu menelurkan ‘Nawa Bhakti Satya’ atau atau sembilan cita-cita mulia.

Nawa Bhakti Satya Khofifah-Emil berisikan Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Cerdas dan Sehat, Jatim Akses, Jatim Berkah, Jatim Agro, Jatim Berdaya, Jatim Amanah dan Jatim Harmoni. Tidak lupa, Khofifah juga membawa program unggulannya selama menjadi Menteri Sosial, PKH, ke Jawa Timur dalam bentuk PKH Plus.

Dalam perjalannya, Khofifah lantang menyerukan soal pembelaan hak-hak perempuan. Lebih dikhususkan lagi, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Khofifah menyerukan hal tersebut karena banyak perempuan yang bekerja sebagai buruh pabrik. Tak sedikit dari mereka yang juga berperan sebagai tulang punggung keluarga. Tulang punggung keluarga, kata Khofifah, tidak hanya merujuk pada perempuan yang menjadi orang tua tunggal bagi anaknya. Banyak juga, perempuan yang secara penghasilan lebih tinggi dalam sebuah keluarga.

“Tidak harus single parent, tapi ada yang secara ekonomi menjadi tulang punggung keluarga. Jumlahnya ada 2,6 juta ada di Jawa Timur,” ujar Khofifah.

“Yang saya datangi di Malang dan Jombang, yang kerja di SKT (Sigaret Kretek Tangan) rata-rata perempuan tulang punggung keluarga. Banyak yang bekerja diatas 15 tahun,” kata Khofifah usai berkunjung ke salah satu pabrik rokok di Surabaya pada 13 April lalu.

Untuk itu, Khofifah meminta para pengusaha Jawa Timur ikut dalam program yang diberi nama ‘Sabuk Kesejahteraan Warga Jawa Timur’. Program tersebut merupakan upaya untuk melindungi para perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga agar mereka tetap bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka.

“Dari beberapa pertemuan dengan pelaku usaha, sesungguhnya pelaku bisnis di Jawa Timur ini harus menjadi ‘Sabuk Kesejahteraan Warga Jawa Timur’. Artinya industri padat karya tetap menjadi komitmen,” ucap Khofiah.

“Ini akan meneteskan kesejahteraan pada masyarakat Jawa Timur, khususnya perempuan kepala keluarga,” lanjutnya.

Nyaringnya Khofifah menyuarakan hak perempuan dan kiprahnya di berbagai bidang mendapat apresiasi dari Internasional Film Festival for Women, Social, Issues, and Zero Discrimination (IFFWSZ). Khofifah disebut sosok inspiratif kaum perempuan.

Dewan Penasihat DKR (Dewan Kreatif Rakyat) Lily Wahid mengatakan, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa perempuan dapat tetap menunjukkan eksistensinya bagi masyarakat di tengah masih maraknya diskriminasi.

“Mereka adalah contoh bagaimana, di tengah adanya diskriminasi yang terjadi di masyarakat, mereka tetap bisa memberikan kontribusi terbaik di posisi atau institusi tempat mereka bekerja. Semoga ini bisa bangkitkan dan meniadakan diskriminasi bagi perempuan di Indonesia,” ucap Lily.

Sebagai perempuan sekaligus ibu dan tulang punggung keluarga, Khofifah mengerti bagaimana rasanya membagi tugas untuk mengasuh anak. Karena itu, Khofifah saat pertemuan dengan koperasi dan pengusaha UKM se-Jawa Timur di Sidoarjo, membacakan puisi tentang pentingnya peran seorang ibu. Dalam puisi tersebut, mengutarakan kebahagiaan seorang ibu melihat anak-anaknya sukses dalam kehidupan. Puisi yang dibacakan Khofifah berjudul ‘Hanya Emak yang Tahu’. (tim)

Berikut isi puisi yang dibacakan oleh Khofifah:

Hanya Emak yang Tahu

Saat emak baru saja memejamkan mata, pecahlah tangisan si kecil dengan nyaringnya. Dalam keadaan mengantuk, anak pun harus digendong sepenuh cinta. Bagaimana rasanya? Hanya emak yang tahu.

Saat lapar melanda, terbayang makanan enak di atas meja. Ketika suapan pertama, anak poop di celana. Bagaimana rasanya? Hanya emak yang tahu.

Saat badan sudah lelah tak ada tenaga, ingin segera mandi menghilangkan penat yang ada, mumpung anak-anak sedang anteng di kamarnya. Belum sempat sabunan, anak sudah berantem rebutan boneka. Kacau lah acara mandi emak, langsung handukkan walau daki masih menempel di badannya. Bagaimana rasanya? Hanya emak yang tahu.

Saat emak ingin beribadah dengan khusyuknya, anak-anak mulai mencari perhatian. Menarik-narik mukena, mengacak-ngacak lemari baju, mumpung emak tak berdaya. Loncat sana loncat sini, punggung emak dijadikan pelana. Belum juga selesai berdoa, anak-anak makin berkuasa. Bagaimana rasanya?
Hanya emak yang tahu.

Ah, di balik kerepotan itu semua, namun ada jua surga di dalamnya. Cuma emak yang tahu lezatnya makna senyuman anak yang diberikan. Ucapan anak yang tampak sederhana dihadapan orang, namun menjadi intan permata di hadapan emak. Itulah mengapa saat anak bahagia, emak menangis.

Saat anak berpretasi, emak menangis. Anak tidur lelap, emak pun menangis. Anak pergi jauh, emak menangis. Anak menikah, emak menangis. Anak wisuda TK saja, emak menangis. Anak tampil di panggung, emak menangis.

Ah, inikah tangis bahagia yang tak akan dapat dimiliki siapapun jua. Jika engkau tak mengalaminya sendiri sebagai emak, mungkinkah ini bagian dari surga miliknya yang dibagikan kepada seluruh emak, sebuah cinta yang begitu lezatnya dirasa.

Dan akhirnya saya percaya, dimana ada kerasnya perjuangan emak di dalam rumah, maka disitu akan hadir cahaya surga yang menemani emak yang tak kalah indahnya. Jika hari ini engkau menangis karena repotnya mengurus anak, maka akan ada hari dimana engkau tersenyum manis, karena kebaikan yang hadir bersamanya.

Salam untuk seluruh emak-emak di Jawa Timur.

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION