Ketika Debat Capres-Cawapres Kalah Menarik Dibanding Debat Pilgub Jatim 2018

Oleh: Mochtar W Oetomo

Debat Capres-Cawapres perdana semalam jauh dari kata menarik, apalagi inspiratif. Bahkan menurut saya jauh lebih menarik debat Pilgub Jatim 2018 dalam semua aspek. Setelah sekian lama publik dibuat menunggu dan penasaran terhadap debat perdana ternyata yang tersaji seperti sebuah kontes lomba cerdas cermat.

Ini tidak terlepas dari keputusan KPU untuk membocorkan kisi-kisi pertanyaan pada paslon. Sehingga kedua paslon tidak tampil natural, sesuai karakter dan kepribadian masing-masing.

Dua jam terasa menjadi sangat lama dan menjemukan karena disajikan penampilan paslon yang kaku, tidak eksploratif, tidak elaboratif dan monoton. Paslon menjadi seperti terbatasi oleh masukan-masukan yang diberikan oleh para tim ahlinya selama persiapan karena sudah mendapat bocoran soal. Sehingga kedua paslon tampil tidak sebagai dirinya sendiri.

Jokowi yang biasanya santai dan penuh kelakar menjadi terkesan tegang, kaku dan bahkan ofensif. Prabowo yang biasanya berapi-api dan ofensif justru terkesan gamang dan bingung karena berusaha bersikap santai dan santun.

Secara umum, paslon 01 unggul pada sosok capresnya. Paparan Jokowi terlihat lebih fokus, masuk akal, sederhana dan mudah dicerna melalui berbagai fakta dan data. Sementara paslon 02 unggul pada sosok cawapresnya. Sandi terlihat lebih natural dan impresif. Ice breaking yang dia lontarkan saat bilang bukan lagi Gerindra dan saat memijat pundak prabowo menyelematkan debat dari kejemuan dan kejemuan yang lebih parah. Sandi nampak lebih bisa melengkapi capresnya dibanding Kiai Ma’ruf yang lebih banyak diam. Meski secara umum paslon 01 lebih substantif, namun paslon 02 jauh lebih impresif. Bahkan bisa dibilang Sandi menjadi bintangnya debat semalam.

Apa yang paling disayangkan adalah tidak ada pernyataan apresiasi dari kedua paslon pada kompetitornya pada saat momentum closing statement. Jadi harapan publik untuk melihat kedamaian, respek dan kultur komunikasi politik ketimuran yang saling mikul duwur mendem jero tidak didapatkan.

Suasana panas di medsos antar kedua kubu yang diharap bisa dieliminir oleh kedua paslon, ternyata jauh panggang dari api, karena closing statment yang tidak tepat. Debat perdana hampir tidak memberikan penawaran dan terobosan konkret bagaimana cara berbangsa dan bernegara kita kedepan menjadi lebih maju, sejahtera dan beradab. Jauh dibanding debat Pilgub Jatim 2018 yang penuh dengan adu gagasan subtantif dan penuh pelajran adab dan respek dalam kompetisi politik.

Harapan untuk debat berikutnya mudah-mudahan paslon tampil lebih natural. Tampil sebagai diri sendiri. Kisi-kisi soal hendaknya tak perlu dibocorkan lagi agar paslon lebih bisa eksploratif dan elaboratif. Dan teknis debat hendaknya lebih humanistik, sehingga jalannya debat tidak maknistik dan monoton, karena terlalu banyak aturan.

Pemilu yang damai, transparan, berintegritas dan bermartabat bagaimanapun juga menjadi tanggung jawab capres cawapres. Maka memberi tontonan adab debat, saling apresiasi dan saling respek menjadi point penting yang harus diingat paslon untuk debat berikutnya. ***

Penulis adalah Direktur Surabaya Survey Center

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION