Karna Tanding

18/12/2017
111 Views

Esai: Mochtar W Oetomo

Sungguh. Menonton dan mengamati pemilihan gubernur/wakil gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) 2018, seperti tengah membuka lembaran kisah Karna Tanding. Salah satu episode terpenting dalam kisah pewayangan Perang Agung Bhatarayudha. Karna Tanding adalah kisah pertempuran yang paling menentukan dalam Bhatarayudha. Perang antara dua ksatria utama, dua pemanah terbaik di kolong langit. Perang antara Arjuna lawan Karna, sama seperti Saifullah Yusuf atau akrab dipanggil Gus Ipul (GI) versus Khofifah Indar Parawansa (KIP).

Perang antara dua saudara sekandung. Sama-sama putra Ibu Kunti Talibrata. Satunya putra Dewa Indra, satunya lagi putra Dewa Surya. Satunya murid Guru ternama, Drona. Satunya lagi murid Begawan ternama, Parasu Rama. Sama-sama anak kandung ibu Nahdlatul Ulama (NU). Satunya putra Ansor satunya lagi putra Muslimat. Satunya di bawah pendulum KH Said Aqil Siraj, satunya lagi di bawah pendulum KH Sholahuddin Wahid.

Sama-sama memiliki kekuasaan. Arjuna berkuasa penuh di Madukara. Karna berkuasa penuh di Awangga. GI adalah seorang Wakil Gubernur, sementara KIP adalah seorang menteri. Arjuna memiliki panah sakti Pasopati yang jika dilepas dari busurnya tak pernah luput dari sasaran. Karna memiliki panah sakti Kunta Wijayandanu, yang jika sudah disebutkan sebuah nama, meski nama itu sembunyi di bawah gunung tetap akan tembus dadanya. Sebagaimana GI memiliki panah sakti NU struktural, sementara KIP dengan panah NU kulturalnya.

Arjuna bukan hanya didukung oleh pasukan Madukara, tapi juga pasukan dari Pringgandani, Plangkawati, Jodipati, Bumi Rahtawu, Sawojajar dan pasukan lain. Karna pun demikian, bukan hanya didukung penuh oleh pasukan Awangga, tapi juga pasukan Madra, Dwaraka, Sokalima, Trigata dan banyak lagi. Sebagaimana GI mendapatkan dukungan dari Banser, Ansor, barisan kiai khos, kiai kampung dan banyak lagi. Sementara Karna mendapatkan dukungan penuh dari Muslimat, Fatayat, 1000 Kiai Madura dan banyak lagi.

Sungguh. Benar-benar lawan yang setanding dan sebanding. Sama-sama kuat. Sama-sama sakti. Sama-sama lengkap potensi dukungannya. Susah untuk menebak siapa sesungguhnya yang lebih sakti, dan siapa sesungguhnya yang memiliki dukungan lebih kuat, lebih banyak dan lebih besar. Pilgub Jatim ini benar-benar serasa kisah Karna Tanding yang bahkan Basudewa Krisna sendiri tak berani menjamin siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertempuran yang menentukan ini.

Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) periode Desember 2017 pun mengungkap bahwa dukungan publik atas keduanya relatif berimbang. Pasangan GI-Anas memperoleh dukungan sebesar 36,2% dan KIP-Emil mendapatkan dukungan sebesar 33,9%, sementara sisanya yang 29,9 belum menentukan sikap. Selisih suara yang sangat tipis, yakni hanya sebesar 2,7%, selisish yang masih dalam batas margin of error survei ini, yakni 3,2%. Artinya keduanya saling bisa mengalahkan dengan peluang yang sama. Ngeeeeriihh..!! Istilah para generasi millennial.

Sabagaimana Bharatayudha yang seolah-olah hanya menjadi panggung pertarungan Arjuna versus Karna. Pilgub jatim 2018 seolah hanya menjadi panggung pertarungan GI versus KIP. Satu persatu ksatria pilih tanding menyingkir dari gelanggang pertarungan Karna Tanding. Sebagaimana puluhan tokoh yang sempat ikut running Pilgub menyingkir dan menghilang pelan-pelan dengan berbagai alasan. Nurwiyatno, Syafiin, Nurhayati Ali Asegaf, Ridwan Hisjam, Hasan Aminuddin, Hari Istu Bagio, Masfuk, Suyoto, Kunadi, Kanang Budi Sulistio, Said Abdullah, Rendra Kresna, M Nuh, Ipong Muschlisoni dan banyak nama lain hilang dan tersingkir satu persatu. Silau dengan nama besar Arjuna dan Karna, dan merasa tidak mungkin mampu menandinginya. Maka tidak heran sebagian besar dari mereka hanyalah mencoba peruntungan sebagai Cawagub dan bukan sebagai Cagub untuk menantang langsung.

Kalaupun ada tokoh yang masih begitu percaya diri untuk bisa menandingi kesaktian Arjuna dan Karna, itu hanyalah Palgunadi. Hanyalah La Nyalla M Mattalitti. Sebagaimana Palgunadi yang memiliki Mustika Ampal, La Nyalla dengan dukungan Pemuda Pancasila, Komunitas Pengusaha, sebagian dari pasukan Gerindra, kiai dan berbagai kekuatan lain merasa akan mampu menandingi GI dan KIP. Sedikitpun tidak gentar dan pantang menyerah berjuang. Sebagaimana tidak gentarnya Palgunadi terhadap Arjuna dan Karna.

Sayangnya menjelang pertempuran Palgunadi kehilangan Mustika Ampalnya. Mustika yang dipercaya akan membuat Palgunadi setanding dan sebanding dengan Arjuna dan Karna. Sebagaimana La Nyalla yang hingga kini belum mendapatkan kendaraan partai untuk bertarung di Pilgub. Gerindra hingga saat ini baru menyerahkan surat tugas dengan syarat Nyalla harus mampu menyelesaikan soal koalisi dengan partai lain dan menyediakan kelengkapan pemenangan. Sebuah tugas yang oleh berbagai pihak dinilai sangat amat berat sekali.

Padahal PAN mulai memperlihatkan tanda-tanda mengarah ke KIP, sementara PKS ke GI. Nyalla seperti Palgunadi, harus memasuki medan pertarungan tanpa Mustika Ampal. Dengan dukungan partai yang belum jelas. Sebagaimana GI telah mendapatkan dari PKB dan PDIP, sementara KIP telah mendapatkan dari Demokrat, Hanura dan Golkar. Maka, kembali gelanggang seolah-olah hanya menjadi milik Arjuna versus Karna, menjadi milik GI versus KIP.

Sungguh. Amat susah untuk memprediksi siapa yang akan menang. Sebagaimana kisah Karna Tanding, pada akhirnya akhir dari pertarungan itu akan sangat ditentukan oleh kecerdasan dan kepiawaian Basudewa Krisna dan Prabu Salya. Akan sangat ditentukan oleh kekuatan-kekuatan besar di belakang GI dan KIP. Akan sangat ditentukan oleh para juru taktik dan juru strategi di balik dua kekuatan. Atau, adakah ksatria lain sekelas Palgunadi yang memiliki Mustika Ampal? Yuukk……kita nanti dan saksikan bersama-sama.

 

*) Penulis adalah dosen di FISIB Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

Leave A Comment