Karena Arok Memiliki Dedes

25/12/2017
253 Views

Esai : Mochtar W Oetomo

Sesungguhnya bukan semata-mata karena kesaktianya Arok mampu menyingkirkan Tunggul Ametung dan menggantikan kedudukannya sebagai Akuwu Tumapel. Tapi lebih kerena kecerdikannya mengoptimalkan potensi Mpu Gandring dan kelemahan Kebo Ijo. Bukan pula karena pasukan berandal Padang Karautan yang begitu loyal menopang segala rencananya. Bukan juga karena nasihat dan arahan Dahyang Lohgawe dengan segala kebijakannya. Apalagi hanya karena kejenuhan rakyat akibat kekuasaan Tunggul Ametung yang sewenang-wenang.

Bukan semata-mata karena itu semua Arok mampu merebut tahta Tumapel dan mendapatkan legitimasi yang kuat untuk menyerang dan menaklukan Raja Kertajaya Kediri. Lebih dari semua itu adalah karena Arok memiliki Dedes. Mendapat dukungan penuh dari Dedes.

Ya ya ya. Karena Arok memiliki Dedes. Memiliki hati Dedes sejak mereka bertemu di hutan Baboji dan Arok melihat tanda Mahanareswari yang bercahaya dari pangkal paha Dedes. Sementara Dedes melihat tanda Muncukunda di tengah-tengah kedua mata Arok. Tanda Mahanareswari adalah tanda yang dimiliki oleh seorang wanita utama yang dipercaya akan menjadi ibu bagi para raja. Sementara tanda Muncukunda adalah tanda kesatria yang diberkahi para dewa untuk menjadi raja. Pertemuan antara Arok dan Dedes di Baboji adalah pertemuan tanda-tanda. Tanda-tanda yang mempersatukan hati dan ambisi keduanya. Sekaligus jalan pembuka bagi Arok untuk menapak jalan kekuasaan.

Dedes lah yang memberi jalan lapang pada Lohgawe dan Arok masuk istana Tumapel untuk menjalankan segala siasatnya. Dedes pula yang meyakinkan Tunggul Ametung, segenap petinggi dan rakyat Tumapel bahwa Arok yang pantas menjadi Kepala Pasukan Tunggak Kemit. Dedes lah yang memberi legitimasi pada Arok sehingga leluasa mengatur segala siasat dari dalam istana untuk menyingkirkan Tunggul Ametung. Bahkan ketika Tunggul Ametung dan Kebo Ijo terbunuh oleh keris Empu Gandring dan terjadi kekosongan kekuasaan, sesungguhnya bukan Lohgawe yang membuat rakyat Tumapel menerima Arok sebagai Akuwu baru. Dedes lah sang pemberi legitimasi.

Karena Arok memiliki hati Dedes. Sang Mahanareswari putri Mpu Purwa dari Panawijen yang dipuja dan dicinta rakyatnya. Dedes yang kemanapun kaki melangkah selalu dielu-elukan oleh rakyat sebagai titisan Bathari Kamaratih. Dewi cinta dan kasih-sayang. Kecantikan ragawi dan batini yang bercahaya berkilauan menyilaukan semua orang.

Ya ya ya karena popularitas Dedes, karena pesona Dedes, karena simbolisasi Dedes lah rakyat Tumapel menerima begitu saja Arok sebagai Akuwu Tumapel pengganti Tunggul Ametung saat Lohgawe membaiatnya. Lohgawe mengangkat tangan Arok dan Dedes bersamaan dan membaiat keduanya sebagai Akuwu dan Parameswari Tumapel tanpa reserve sedikit pun, bahkan dari para pendukung setia Tunggul Ametung.

Ya ya ya. Maka ketika beberapa bulan lalu. Tepatnya sepanjang bulan September. Ketika banyak rakyat Jatim dibuat penasaran siapa yang akan dipilih sebagai pasangan Khofifah sebagai Cawagub di Pilgub Jatim 2018, saya sudah punya jawaban pasti setiap teman-teman wartawan bertanya. Di antara nama-nama kuat yang digodok para kiai seperti Hasan Aminuddin, Ipong Muchlisoni, Syafiin, Harsono, Heru Cahyono, Nurwiyatno dengan yakin saya menjawab pertanyaan temen wartawan: Emil Dardak. Bahkan ketika sekian banyak nama itu tinggal mengerucut pada 3 nama, Hasan, Ipong dan Emil. Sayapun tetap yakin : Emil Dardak akan menjadi Cawagub Khofifah.

Kenapa?! Tanya temen-temen wartawan penasaran, berulangkali. Karena Emil memiliki apa yang tidak dimiliki oleh kandidat lain. Apa itu?! Bukankah Ipong lebih kuat, Mataraman, santri dan punya modal kuat?! Protes seorang teman wartawan yang bahkan kemudian mengajak saya bertaruh. Dia pegang Ipong dan saya pegang Emil, yang kalah harus nraktir ngopi sak rokoke…hehe. Setelah benar Emil terpilih, barulah saya membuka jawaban atas keyakinan saya. “Karena Emil memiliki Arumi”. Jawab saya ketika itu yang membuat banyak temen wartawan tertawa.

Tapi setelah itu Emil membuktikan jawaban saya itu. Arumi Bachsin yang pernah malang-melintang di dunia entertain dan populer di kalangan ibu-ibu dan generasi millenial seperti menjadi jimat bagi Emil Dardak. Sebagaimana Sang Mahanareswari Ken Dedes menjadi jimatnya Arok. Arumi mendukung penuh ambisi suaminya menapak jalan kekuasaan dalan kontestasi Pilgub Jatim. Bukan sekedar setia mengikuti blusukan Emil kemana saja, bahkan dengan tegas menyatakan akan menjadi jurkam bagi pasangan Khofifah-Emil. Kemana kaki Arumi melangkah, rakyat (terutama ibu ibu dan remaja putri millennial) menyambut dengan antusias. Mengelu-elukan Arumi. Berebut mengajak selfie. Bersalaman hingga mendoakan kemenangan suaminya. Sebagaimana sambutan rakyat Tumapel pada Dedes.

Bahkan ketika Arumi masuk ke kandang lawanpun, blusukan ke Banyuwangi yang notabene daerah kekuasaan lawan suaminya, yakni Abdullah Azwar Anas, Arumi dan Emil tetap mendapat sambutan yang gegap gempita. Bukan hanya blusukan ke berbagai kota, Arumi juga tampil sebagai speaker di berbagai acara diskusi dan seminar. Bahkan juga mewakili suaminya membuka posko pemenangan manakala suaminya berhalangan. Di berbagai kesempatan Arumi tak lupa selalu melegitimasi suaminya sebagai sosok yang layak dan pantas mendampingi Khofifah dan layak dan pantas menjadi Wagub Jatim. Dimana kaki Arumi melangkah untuk kepentingan pencalonan Emil disitu pula rakyat menyemut. Media berlomba memberitakan. Popularitas Emil Dardak pun dengan sendirinya melesat dengan cepat di mata publik Jatim.

Berdasar hasil survei Surabaya Survey Center (SSC), popularitas Emil pada bulan Juni 2017 masin di angka 16,6%, tapi di bulan Desember melesat jauh menjadi 66,6%, naik 50% hanya dalam tempo 6 bulan. Akseptabilitasnyapun melesat pesat dari 10,6% dibulan Juni menjadi 59,6% di bulan Desember. Maka muncullah istilah-istilah Arumi Effect atau Arumi Phenomenon atas capaian Emil Dardak tersebut. Seperti bola salju, fenomena Arumi semakin hari semakin menggelinding dan membesar akibat pemberitaan media. Sambutan terhadap kehadirannyapun di berbagai tempat semakin gegap gempita. Otomatis pada saat bersamaan popularitas dan akseptabilitas Emil juga kian meroket. Sebagaimana Dedes memberi legitimasi pada Arok, tak pelak lagi, tak bisa dipungkiri, Arumi juga memberikan dampak dan legitimasi yang kuat pada Emil untuk menapak kekuasaan. Seperti saat tahun 2015 Arumi juga menjadi faktor penting atas kemenangan Emil di Pilbub Trenggalek.

Bahkan saat SSC melakukan survei soal persepsi publik pada para kandidat Cagub-Cawagub, temuannyapun sungguh mengejutkan. Jika Gus Ipul dipersepsikan oleh publik sebagai sosok yang merakyat, Khofifah dipersepsikan sebagai sosok yang cerdas dan Anas dipersepsikan sebagai Bupati yang sukses, maka Emil Dardak dipersepsikan sebagai Suami Arumi Bachsin. Bukan sebagai bupati muda, tampan, cerdas atau persepsi lainnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya faktor Arumi bagi perjalanan Emil dalam menapak kekuasaan. Sebagaimana pentingnya Dedes bagi Arok dalam merebut Tumapel dan menakhlukkan Kediri. Tapi apakah Arumi akan berhasil mengantar Emil ke kursi Wagub sebagaimana Dedes berhasil mengantar Arok ke kursi Akuwu?! Semudah Arumi mengantar Emil menjadi bupati Trenggalek?! Bagaimanapun seperti Arok, Emil tetap saja membutuhkan nasihat dan siasat Lohgawe. Tetap memerlukan kesetiaan pasukan Padang Karautan. Tetap memerlukan kesalahan Tunggul Ametung dan kebodohan Kebo Ijo. Dan lebih dari itu tetap memerlukan peningkatan kapasitas dan visi hingga mendapatkan Muncukunda dan Ekagatra. Meski penting bagi Arok memiliki Dedes, namun itu saja tidak cukup. Sebagaimana Arumi saja tidak cukup buat Emil Dardak.

*) Penulis adalah dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Direktur Surabaya Survey Center

Leave A Comment