Jabat Ketua PB NU,Tak Jaminan Gus Ipul Menangi Pilgub Jatim

Portaltiga.com:Jabatan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tidak serta merta menjamin Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf akan mudah memenangkan pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 mendatang.

“Saya tidak yakin Gus Ipul bisa menjadi Gubernur jika tidak dipersiapkan dengan baik. Karena, Gus Ipul tidak otomatis mampu menguasai NU, meski menjabat Ketua PBNU,” kata Presiden Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) kepada wartawan di Surabaya, Selasa (3/5).

Jusuf Rizal tidak asal bicara. Berkaca pada pengalaman Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 lalu, calon incumbent Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan Ketua PBNU Hasyim Muzadi bisa kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK).

Dalam konteks dan logika, menurutnya, seharusnya Megawati dan Hasyim Muzadi bisa memenangkan Pilpres 2004. Sebab, keduanya memiliki konstituen besar. “Kenapa bisa kalah. Ini bisa juga terjadi kepada Gus Ipul. Tidak ada jaminan, walau Gus Ipul sekarang Ketua PBNU,” ujarnya.

Karena itu, tidak ada jaminan juga Gus Ipul bakal menang mudah jika didukung PDIP,. Alasannya, pemilih sekarang ini sudah sangat cerdas. Masyarakat tidak bisa dibohongi dan bisa melihat mana calon pemimpin yang baik.

“Itu bisa terjadi swing voter. Contohnya Pilpres, yang namanya massa PDIP besar. Megawati waktu itu jadi Presiden punya kekuatan luar biasa digandeng Hasyim Muzadi yang punya nahdliyin. Tapi, tetap saja kalah. Jadi, peta sekarang sudah berubah, masyarakat bisa melihat dan lebih cerdas,” ungkapnya.

Pertarungan terakhir, lanjutnya, adalah kesiapan jaringan dan logistik. Karena Jatim ini sangat luas. Dukungan kelompok pesantren dan ulama itu bukan menjadi ukuran akan bisa menang. Karena, polrarisasi dukungan ini sangat tergantung kepada transaksional.

“Bisa saja dari pimpinan ulama akan mendukung si A, tetapi santri atau voternya itu memiliki dinamikan politik yang lebih luas dan pintar dengan adanya teknologi. Jadi, mereka punya pilihan sendiri. Kalau dulu tidak, tergantung fatwa,” tuturnya.

Jadi, tegasnya, yang harus dilakukan adalah apa yang menjadi program yang bisa dijual kepada masyarakat. Sehingga konstituen meyakini bahwa itu benar. “Ini kembali kepada trik kita. Saya rasa Pakde Karwo pun tidak ada hal-hal yang “kongkrit”, akan sulit,” tandasnya.

Bagaimana dengan LIRA? Jusuf Rizal menyebut sampai sekarang belum mengambil sikap. “LIRA masih wait and see. Begitu juga dengan Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo),” ucap Presiden Parsindo ini. (Bmw)

JOIN THE DISCUSSION