portaltiga.com
Umum

Ini Sindiran Guru Besar FISIP Unair Terkait Kota Surabaya

Portaltiga.com – Sosiolog Prof. Dr. Drs. Hotman Siahaan  merasa miris kepada Kota Surabaya yang hanya melakukan penataan ruang taman-taman kota tanpa mempertimbangkan estetika.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu menilai, hal ini disebakan karena Pemkot Surabaya sama sekali tidak ada penghargaan kepada para senimannya lantaran tidak melibatkan seniman dalam memberi ruang berekspresi.

Lebih miris lagi karena sekarang Pemkot Surabaya malah akan menggusur keberadaan Dewan Kesenian Surabaya dari lingkungan kompleks Balai Pemuda.

“Saya miris karena karena kantong-kantong kesenian di Surabaya tidak diperhatikan oleh Pemkot Surabaya. Sekaligus bangga karena seniman-seniman Kota Surabaya meski ruangnya dipersempit masih tetap punya semangat untuk berkarya,” ucapnya, saat menghadiri pembukaan pameran tunggal pelukis Makhfoed di Surabaya, Kamis malam (16/11/2017).

Dia mengungkap penggusuran ruang seni di Kota Surabaya terjadi sejak era 1900-an, yaitu pada komunitas perupa Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera).

Aksera yang berdiri sejak 1967 di Balai Pemuda Surabaya pada pertengahan 1980-an digusur dan direlokasi di kawasan Jalan Dukuh Kupang Surabaya.

“Tapi yang terjadi ruang-ruang seniman di Kota Surabaya justru digusur,” katanya

Sejak itu komunitas perupa Surabaya yang berbasis akademis seni rupa itu mengalami pergeseran dan hingga kini mengalami mati suri karena tidak mampu meregenerasi.

“Padahal, berbicara sejarah seni rupa Indonesia pasti ada Aksera yang turut mewarnai di dalamnya,” ujarnya.

Balai Pemuda, menurut dia, adalah tempat nongkrong para seniman Kota Surabaya. Dari Aksera, yang saat itu masih berpusat di Balai Pemuda Surabaya, telah melahirkan perupa-perupa besar seperti almarhum Amang Rahman, O.H Supomo, M Ruslan, Tedja Suminar, M Daryono, dan Krishna Mustajab.

Selain perupa, Balai Pemuda juga melahirkan seniman-seniman besar di bidang lainnya, seperti almarhum Dramawan Basuki Rahmat, sineas Gatut Kusumo, musisi Gombloh, Franky Sahilatua, dan Leo Kristi.

“Semua seniman-seniman besar yang lahir dari Balai Pemuda itu turut mengharumkan nama Kota Surabaya,” katanya.

Dia menyitir pameran tunggal pelukis Makhfoed, yang kini berusia 78 tahun dan merupakan dedengkot Komunitas Aksera di Kota Surabaya justru berlangsung di Galeri Prabangkara, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, yang merupakan ruang kesenian milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (ant/tea)

Related posts

Jelang BOT Hi Tech Mall, Pedagang IT Masih Dapat Berjualan

admin

Hari Jadi Surabaya Ke-728, DPC PDIP: Surabaya Terus Bertumbuh

admin

Adakan Rakercabsus, DPC Gerindra Surabaya Hadirkan Empat Kandidat Terkuat Pilwali

admin