Hanya Menyamar Jadi Pocong, Sutrisno Raup 100 Ribu Perhari

Portaltiga.com – “Ayah, aku takut. Ada Pocong !,” seru seorang anak perempuan sambil menutup matanya dengan kedua tangannya saat melintas di Jalan Kutisari Selatan Surabaya bersama bapaknya mengendarai matic.

Memang benar ada pocong tapi jadi-jadian yang mengatur lalu lintas alias polisi cepek. Bukan pocong beneran tapi itulah Sutrisno, polisi cepek unik dan atraktif memakai kostum ala pocong.

Di bawah terik matahari yang panas Sutrisno (61) rela mengenakan baju pocong, serba putih. Mukanya dipoles dengan kombinasi cat warna putih di seluruh wajah, hitam di kelopak mata, dan merah di beberapa garis wajah untuk membentuk kucuran darah.

Itu gambaran pria asli Banyuwangi yang sehari-hari berada di pertigaan tersebut. Sutrisno tidak terbebani mengenakan kostum aneh dan unik untuk mengatur lalu lintas. Justru dia senang bisa menghibur dan menarik perhatian pengendara.

“Sudah terbiasa melukis wajah seperti ini, dan cat ini tidak menyebabkan iritasi atau gatal, nyaman-nyaman saja” kata Sutrisno saat ditemui di persimpangan Jl Kutisari Selatan.

Sutrisno mengaku tidak hanya memiliki kostum pocong. Dia juga kerap berganti kostum seperti pahlawan dari dalam maupun luar negeri. Mengenakan kostum yang aneh-aneh ini sudah berlangsung sejak pertama mengatur lalu lintas pada tahun 1998. Kostum-kostum yang dibuatpun merupakan karyanya sendiri.

“Pagi saya menyempatkan diri untuk membuat kostum yang akan saya pakai. Saat ini kurang lebih ada sepuluh kostum, diantaranya pocong, anoman, adat dayak, batman, spiderman dan masih banyak yang lain,” katanya.

Pria kelahiran 9 November 1958 ini mengenakan kostumnya sesuai dengan peristiwa yang saat tu terjadi. Seperti ketika menjelang hari pahlawan, beliau akan membuat kostum seperti bung karno, atau penjajah. Kostum yang pernah dipakai mulai dari berbagai macam profesi pekerjaan (guru, polisi, pegawai sipil), tentara Romawi, orang-orang kepercayaan raja kuno pada masanya, malaikat pencabut nyawa, tokoh  berbagai agama,  jenis hantu, atlet olahraga, dan lain sebagainya.

Sutrisno bermukim di Surabaya sejak tahun 1971. Waktu itu pekerjaan yang digelutinya di bidang pembangunan. Dia menjadi pekerja panggilan proyek untuk seluruh wilayah Surabaya. Akan tetapi pada masa menjelang turunnya Presiden Soeharto pada 1998 lalu keadaan ekonomi  menurun dan buruh tidak dibayar. Pada saat itu Sutrisno beralih menjadi penarik becak.

Karena rumah singgahnya berada di kawasan Kutisari Selatan, Sutrisno sering melewati persimpangan ini dalam kondisi macet dan sering terjadi perselisihan antar pengendara.

“Nah, karena kejadian itu saya berpikir keras, bagaimana agar persimpangan ini tidak membuat pengendara ribut karena kemacetan,” katanya.

Sutrisno cukup gigih mengatur lalu lintas di persimpangan Jalan Kutisari Selatan.

Keberadaan Sutrisno cukup menghibur para pengguna jalan. Sehingga banyak yang rela merogoh koceknya karena merasa terhibur dibanding merasa terbantu olehnya. Dari kebaikan pengguna jalan itu, jika dirata-rata, Sutrisno mengaku bisa mengantongi Rp100 ribu per hari.(fey/fey)

.

JOIN THE DISCUSSION