Gunung Penanggungan Alami Kebakaran, 40 Hektar Hutan hangus

Portaltiga.com – Kebakaran melanda kawasan puncak Gunung Penanggungan sejak Senin (1/10) pukul 16.00 WIB. Hingga hari ini, api masih belum sepenuhnya padam. Para pendaki diimbaqu untuk tak naik ke puncak gunung berjuluk Para pendaki diimbau tak nekat naik ke puncak gunung berjuluk Pawitra itu secara liar, jika tak mau celaka.

Kebakaran sejauh ini menghanguskan sekitar 40 hektar hutan lindung milik Perhutani di kawasan puncak Gunung Penanggungan. Tak hanya hutan, kebakaran juga merambah padang rumput di ketinggian sekitar 1.600 mdpl.

Sekretaris Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari yang mengelola pos pendakian Tamiajeng, Trawas, Mojokerto Khoirul Anam mengatakan, awal titik api berada di puncak sisi utara dan hingga kini mhampir menghanguskan seluruh kawasan puncak gunung.

“Awalnya titik api di puncak sisi utara (di atas Desa Kunjorowesi, Ngoro, Mojokerto), langsung meluas ke arah barat dan selatan, hampir melingkari kawasan puncak,” ujar pria yang sempat membantu pemadaman api ini, Selasa (2/10/2018).

Api sempat bisa dilokalisir pada Senin malam setelah puluhan relawan terjun untuk melakukan pemadaman secara manual, antara lain dari 15 warga Desa Kunjorowesi, 8 warga Desa Wotanmas Jedong, 10 orang komunitas trail, 10 relawan dan 12 orang dari LMDH Sumber Lestari.

“Titik api yang kemarin bisa dipadamkan di jalur pendakian Tamiajeng dan Kedungudi (Trawas). Saat ini muncul kembali akibat bara yang tersisa juga karena lokasi kebakaran di jurang yang sulit dijangkau,” terangnya.

Oleh sebab itu, lanjut Anam, tim dari LMDH Sumber Lestari saat ini berjaga di puncak Bayangan pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Selain untuk memadamkan api, tim juga menjaga potensi pendaki liar yang nekat naik ke puncak Pawitra.

Hal ini karena meski jalur pendakian Tamiajeng ditutup, tak sedikit pendaki yang nekat naik melalui jalur tikus. Jika tak diantisipasi dikhawatirkan bakal jatuh korban lantaran api masih membakar sejumlah titik di kawasan puncak Penanggungan.

“Kami jaga di puncak Bayangan untuk antisipasi pendaki liar. Karena di jalur Tamiajeng, puncak Bayangan menjadi basecamp,” tutupnya. (dtc/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION