Gubernur Jatim Sambut Positif Kehadiran Tim Ekspedisi Islam Nusantara

 

Portaltiga.com : Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyambut positif kehadiran tim Ekspedisi Islam Nusantara sebagai wujud perekaman jejak dan rekonstruksi sejarah untuk perdamaian di Tanah Air. Tim tersebut digagas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Kehadiran tim Ekspedisi Islam Nusantara ini sangat penting karena mempelajari proses transformasi antara Islam dan akulturasi dengan kebudayaan yang dilakukan,” kata nya di sela menerima Tim Ekspedisi Islam Nusantara PBNU di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (15/4).

Pria yang akrab dipanggil Pakde Karwo itu menjelaskan, menjadi pekerjaan yang luar biasa bagi tim dan anggotanya karena dituntut untuk menyajikan Islam dan budaya yang merupakan model lama menjadi sesuatu yang baru dan diterima oleh masyarakat, khususnya anak-anak muda.

“Makna Islam dan budaya tetap seperti dulu atau tidak berubah, tapi pengemasannya harus menarik sesuai zaman sekarang sehingga bisa dirasakan oleh siapa dan dimana saja,” ujarnya.

Pakde Karwo memberi contoh budaya yang dikembangkan di Jatim adalah musyawarah mufakat untuk menemukan seorang pemimpin. “Di Jatim itu tidak sependapat dengan suara terbanyak, kecuali model Pilkada karena sudah diatur dalam undang-undang,” ucapnya.

Ketua Tim Ekspedisi Islam Nusantara Imam Pituduh menambahkan bahwa tujuan ekspesidi ini untuk melakukan rekam jejak dan merekonstruksi sejarah nusantara sekaligus menyebarluaskan perdamaian.

Selain itu, tim juga menyampaikan kampanye deradikalisasi dan antinarkoba kepada semua kalangan, khususnya anak muda melalui pembelajaran serta pemahaman yang benar.

“Anak-anak muda sekarang harus disadarkan bahwa suatu saat mereka akan menjadi pelaku sejarah sehingga perlu pemamahan yang benar, terutama terkait bahaya radikalisasi dan narkoba,” ujarnya.

Wakil Sekjen PBNU itu juga mengatakan ekspedisi ini akan menyampaikan ke dunia bahwa Islam Nusantara berbeda dengan watak kekerasan, radikal dan merugikan peradaban, tapi justru sebagai penegasan bahwa Islam tidak bertentangan dengan kebudayaan.

Tim Ekspedisi Islam Nusantara sendiri akan menyampaikannya ke masyarakat Tanah Air selama dua bulan. Dimulai sejak 31 Maret 2016 dari Jakarta dan dijadwalkan berakhir 9 Juni 2016 di Raja Ampat, Papua.

Sampai saat ini, sudah sembilan daerah di tiga provinsi yang dilewati, yaitu Cirebon, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya. Perjalanan berikutnya, tim menuju Lumajang, Jombang, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, Yogyakarta, Tasikmalaya dan Serang.

Kemudian beralih ke Pulau Sumatera (Aceh, Medan, Langkat, Siak, Indragiri, Pariaman, Padangpanjang, Palembang), Pulau Kalimantan (Kutaikartanegara dan Banjarmasin), Pulau Sulawesi (Makassar, Gowa, Gorontalo, Manado), Maluku (Ternate dan Tidore), Nusa Tanggara Barat (Lombok), serta perjalanan terakhir ke Indonesia paling timur, yaitu Papua (Sorong dan Raja Ampat).

Di tempat-tempat yang dikunjungi, tim akan membidik persoalan toleransi dan akulturasi budaya, kebhinekaan dan solidaritas sosial, kemandirian ekonomi, kesehatan dan keberlanjutan kehidupan, sufisme dan kepercayaan lokal.

Berikutnya adalah semangat Keislaman, kemanusiaan dan kebangsaan, infrastruktur dan corak arsitektur, kesenian, tata busana dan tradisi lokal, pendidikan, ilmu pengetahuan dan karya tulis, politik keumatan, hukum dan kesultanan, serta pelestarian lingkungan dan harmoni alam.

“Tim melakukan berbagai kegiatan seperti menonton pertunjukan seni, membaca naskah, mendatangi makam, masjid, keraton, museum, dan tempat-tempat bersejarah, bertemu dengan pelaku seni, budayawan, kiai, dan tokoh lain,” katanya. (Bmw)

JOIN THE DISCUSSION