Grahadi Dikepung Sopir Angkot Dan Buruh

Portaltiga.com – Ribuan sopir angkutan kota (angkot) dan buruh mengepung Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (31/10/2017). Mereka menuntut Gubernur Jatim Soekarwo untuk segera menyelesaikan persoalan yang dihadapi masing-masing.

Sopir angkot memprotes keberadaan taksi online yang meresahkan sopir angkot. Sejak taksi online beroperasi, pendapatan sopir angkot turun drastis. Penumpang lebih memilih menggunakan jasa angkutan taksi online yang relatif lebih murah dan nyaman.

Sedangkan buruh berunjuk rasa menuntut Gubernur Soekarwo untuk membatalkan PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan. Lahirnya PP tersebut, dianggap menjadi salah satu paket ekonomi jilid IV pemerintahan Joko Widodo yang lebih berpihak kepada kepentingan pemodal dan mengorbankan nasib buruh untuk mendapatkan upah layak.

“PP 78 tahun 2015 itu, merugikan kaum buruh karena hanya menguntungkan perusahaan. Kami minta gubernur untuk tidak menerapkan PP itu di Jawa Timur,” kata salah seorang korlap di atas truk.

Dalam aksinya, ratusan sopir angkot membawa mobil angkotnya di depan Grahadi. Sebagian angkot diparkir di samping pintu masuk sebelah barat dan timur Grahadi. Sebagian lagi diparkir ditengah jalan Gubernur Suryo, tepatnya di depan SMAN 6.

Akibatnya, lalu lintas macet total. Untuk mengurangi volume kendaraan, polisi terpaksa menutup jalan Gubernur Suryo. Pengendara dari arah selatan yang akan melewati jalan Gubernur Suryo dialihkan ke jalan Embong Malang. Demikian pula pengendara dari jalan Tunjungan.

Kemacetan bertambah parah dengan kedatangan ratusan buruh dari Surabaya dan Gresik. Massa dari berbagai elemen buruh itu datang ke Grahadi dengan naik truk terbuka dan ratusan sepeda motor.

Selain itu, ada yang berjalan kaki sambil membawa dua spanduk bertuliskan “Kami gabungan serikat pekerja kota surabaha Menolak PP 78 Tahun 2015”. Beberapa diantaranya juga membawa bendera dan poster bertuliskan DPD Serikat Pekerja seluruh Indonesia Jawa Timur dan DPC Federasi Serikat Pekerja Kabupaten Gresik.

“Kita datang kesini berjuang untuk anak istri. Buruh melihat masih banyak ketidakadilan dan ketimpangan. Pekerja tidak menikmati UMK kabupaten/kota,” teriak orator dari atas mobil pick up. (bmw/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION

Translate »