GP Ansor Soroti Relokasi Masjid DPRD Surabaya yang Terlanjur Dibongkar

24/10/2017
279 Views

Portaltiga.com – Pembangunan gedung baru DPRD Kota Surabaya setinggi 8 lantai sudah mulai dilaksanakan. Proyek Pemkot Surabaya senilai hampir Rp60 miliar itu harus mengorbankan masjid yang berada di lingkungan komplek gedung parlemen dan Balai Pemuda Surabaya.

Hal ini mendapat sorotan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya HM Faridz Afif. Pihaknya menilai sangat ironis karena masjid sudah terlanjur rata tapi tempat pengganti untuk fasilitas ibadah belum kunjung disediakan.

Pria yang akrab disapa Gus Afif ini mengaku mendapat keluhan dari sejumlah masyarakat yang bingung saat akan melaksanakan ibadah sholat. Padahal sehari-hari mereka biasa sholat di masjid tersebut.

“Terlebih pada hari Jumat, ke mana masyarakat akan melaksanakan sholat Jumat. Seharusnya pemkot bijak dengan merelokasi fasilitas ibadah itu sebelum membongkar masjid,” tegas Gus Afif, Selasa (24/10/2017).

Untuk itu, pihaknya berencana menyurati Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Intinya meminta Risma segera menyiapkan fasilitas ibadah sementara, sampai bangunan masjid yang baru selesai di bangun.

“Jangan sampai pembangunan gedung baru mengorbankan ibadah masyarakat,” tegas alumnus pasca sarjana Unair ini.

Afif berharap, nantinya bangunan masjid yang baru harus lebih besar dari yang sudah dibongkar. Karena idealnya, harus seimbang antara bangunan perkantoran dan ruang pribadi anggota dewan dengan masjid yang ada di lingkungan tersebut. Setidaknya, pemkot bisa mencontoh Pemprov atau DPRD Jawa Timur, yang memiliki tempat ibadah cukup representatif.

Orang nomor satu di GP Ansor Kota Surabaya ini mengingatkan, jangan sampai nantinya masjid yang baru di bangun di basement atau di lantai parkir seperti yang banyak terdapat di mal maupun pusat perbelanjaan. Menurutnya, masjid adalah tempat suci, rumah Allah, sehingga harus di tempatkan secara terhormat.

“Harus di lantai tersendiri dan harus lebih bagus dari bangunan fisik masjid yang lama. Kalau masjidnya bagus, insya Allah, ibadahnya lebih khusyu,” imbuh Afif.

Mantan Wakil Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ini juga mengkritik, rencana pembangunan gedung baru DPRD Kota Surabaya yang dinilai mubazir alias pemborosan. Karena faktanya, selama ini anggota dewan jarang berada di kantor. Padahal domisili mereka umumnya di Kota Surabaya.

Afif melanjutkan, anggota DPRD Kota Surabaya lebih sering beraktifitas di luar kantor, baik itu melakukan kunjungan kerja (kunker) maupun studi banding ke luar kota. Belum lagi dengan aktifitas mereka sebagai kader maupun pengurus partai. Praktis dalam seminggu paling hanya satu atau dua hari anggota dewan berada di kantor.

“Harapan kami, dengan bangunan baru yang megah nanti, anggota dewan lebih betah berada di kantor. Dengan begitu, masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi lebih mudah menemui wakilnya tersebut,” pungkas putera mantan anggota DPRD Kota Surabaya, Ali Yakub tersebut. (doy/abi)

Leave A Comment