portaltiga.com
Umum

Gerimis Bantu Teater Gapus Dan FS3LP Rumuskan Konsep Kebudayaan Indonesia

Portaltiga.com – Rintik hujan tak mengurangi antusias undangan dan peserta yang menghadiri Pidato kebudayaan yang diselenggarakan oleh Teater Gapus (Gardu Puisi) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dan FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar), Kamis (21/12/17).

Acara yang digelar di AUP (Airlangga University Press) Kampus C Universitas Airlangga dibuka dengan sambutan dari ketua Teater Gapus, Zilla yang baru terpilih tanggal 16 Desember 2017 kemarin.

Dalam sambutannya, Zilla dan kawan-kawan komunitasnya ingin mengajak hadirin untuk lebih peka terhadap beberapa perubahan dalam perkembangan budaya yang lambat laun sedikit menggerus gerak kreativitas di dalam ranah kesenian dan penulisan sehingga tercipta budaya instan yang belum matang pada gagasan dan konsep estetisnya.

“Sebagai generasi kekinian atau yang lagi trend disebut genersi zaman now, saya dan kawan-kawan merasakan ada sedikit pergeseran dalam perkembangan budaya terutama di jawa timur pada generasi kami dalam ranah kesenian dan penulisan, banyak terjadi keterbatasan kreativitas, beberapa konsep estetis yang belum matang dan hadir sebagai budaya instan,” ucap Zilla.

Setelah sambutan dari Ketua Teater gapus, dilanjutkan rangkaian pidato kebudayaan yang disampaikan oleh dari Ketua AUP Drs. Aribowo., MS, Ketua FS3LP Mashuri, staf pengajar STKW, staf pengajar Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga Probolinggo Indra Tjahyadi, jurnalis Ribut WIjoto, staf pengajar Magister Kajian Sastra Budaya Unair Lina Puriyanti, kritikus budaya Nu’man Zeus Anggara.

Sebagai Pidato Pembuka Aribowo selaku Pimpinan AUP (Airlangga University Press) yang juga aktif dalam berbagai kegiatan kesenian yang ada di Jawa Timur merasa senang dan terhormat diajak kerja sama untuk acara diskusi dan pembacaan puisi seperti ini.

Ia juga mengkritisi beberapa keterbatasan ruang gerak dalam proses kreatif dan kesenian komunitas Teater Kampus seperti Teater Gapus. Dalam kesempatan ini juga ia mengulas beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam Proses kebudayaan seperti peranan tempat dan fasilitas pendukung yang ada.

“Kami dari AUP merasa perlu untuk memfasilitasi acara kebudayaan guna menelaah kembali kantong-kantong kebudayaan yang kini telah tidak terpusat, melainkan telah terlalu tersebar di berbagai komunitas atau daerah,” ujar mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair ini.

Pidato kedua oleh Mashuri mengulas perkembangan komunitas kesenian Jawa Timur yang diulas dalam bentuk cerita dengan judul “Pohon Trembesi”.

Dalam kacamatanya politik adalah panglima dengan menggunakan peradapan sebagai panutan. Banyak kebudayaan kini tercampur dengan urusan politik, dan kesenian dianggap sebagai produk materi. Kebudayaan kini hanyalah mitos dan manusia hanya menjadi anomali bagi diri sendiri. Dan sehingga kita sangat perlu untuk sadar mulai membangun budaya sendiri.

Indra tjahyadi dalam pidatonya “Sastra dan Tafsir Kota” mengangkat beberapa puisi yang merupakan hasil dari perkawinan sastra dan kota. Indra menilai, membicarakan sastra tidak dapat dilepaskan dari teks apakah sastra masih bisa dianggap teks yang berbentuk fisik.

“Nilai sastra tergantung dengan nilai sejarah sastra, namun jika nilai sejarah sastra hanya sekedar nostalgia lalu dimana nilai sastra? Ruang-ruang sastra di surabaya sangat memprihatinkan, ruang sejarah sastra sudah banyak di hancurkan. Jangan-jangan di masa depan nilai sastra dan budaya hanya sekedar bersifat nostalgia,” ucapnya.

Disambung Ribut Wijoto yang mengulas “Tradisi puisi Gelap dalam takdir kepenyairan puisi di Indonesia” yang lebih banyak mengulas tentang sejarah, pemaknaan puisi gelap, pergeseran dan evolusi puisi gelap itu sendiri.

“Puisi Indonesia harus berkaca pada puisi gelap yang ditulis oleh teman-teman dari Teater Gapus, pasalnya sudah ada faktor sejarah mengapa puisi gelap menjadi puisi paling baik di Indonesia,” ujarnya.

Lalu Lina Puriyati sebagai dosen Magister Kajian Sastra dan budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga sedikit mengajak hadirin untuk melihat banyak hal-hal bias yang ada dalam perkembangan kebudayaan masyarakat di daerah perbatasan di Asia Tenggara. Banyak hal yang saling mengehegemoni masyarakat terutama dalam kesehariaannya di daerah perbatasan.

Pidato terakhir di sampaikan oleh Nu’man Zeus Anggara sebagai Pemerhati Sastra dan Seni yang mengangkat tentang Universalitas dan kebudayaan dunia.

Ia melihat dan berpresepsi bahwa Kebudayaan adalah hal biologis dan ini merupakan persoalan. Refleksi kebudayaan membelah subjek, Subjek kebudayaan serupa objek kemanusiaan. Konsep ideologisnya persoalan manusia tidak pernah selesai. Maka persoalan kebudayaan pun tidak akan pernah selesai, jangkauan subjek yang terlampau luas membuat persoalan kebudayaan menjadi kabur.

Ditutup pukul 11.00 acara pidato kebudayaan ini berhasil menyedot antusias dan mengajak hadirin untuk proaktif menanggapi beberapa isu yang dihadirkan dalam beberapa rangkaian pidato yang disampaikan oleh beberapa pembicara, terlihat dalam setelah diskusi ditutup banyak peserta yang hadir berdiskusi langsung dengan beberapa pembicara. Kedepannya, acara semacam ini akan terus digalakkan oleh Teater Gapus dan FS3LP. (doy/tea)

Related posts

RS Unair Resmikan Unit Pelayanan Endoskopi

admin

Mahasiswa Psikologi Unair Unjuk Kebolehan Tari Topeng Klana Di Korea

admin

Hadiri QS MAPLE 2018, UNAIR Siap Helat Pertemuan Tingkat Dunia

admin