Gedung Negara Grahadi Dijaga Ketat

Portaltiga.com – Ada pemandangan beda di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Jika sebelumnya orang terbiasa keluar masuk Grahadi tanpa pemeriksaan. Sejak Senin (14/5/2018) pagi, pemandangan seperti sudah tak terlihat lagi.

Setiap tamu, tak terkecuali wartawan harus mendapat pemeriksaan ketat dari petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang ingin masuk Grahadi. Pengamanan diperketat dilakukan, menyusul insiden bom bunuh diri dua hari berturut-turut di Surabaya dan Sidoarjo.

Insiden terakhir terjadi di Mapolrestabes Surabaya. Empat teroris meledakkan diri di pintu masuk Mapolrestabes. Aksi ini menimbulkan 8 orang terluka, tiga diantaranya petugas yang berjaga di pintu masuk.

“Pengamanan diperketat karena Grahadi termasuk sebagai obyek vital,” kata Kepala Satpol Jatim, Budi Santosa kepada wartawan di Grahadi, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Tidak hanya Gedung Negara Grahadi, pengamanan ketat juga dilakukan di Kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan Surabaya. Serta sejumlah kantor-kantor pemerintahan serta obyek vital lainnya.

Pengamanan ketat tersebut, tak hanya bagi pengunjung, tapi juga bagi pegawai atau karyawan yang akan masuk kantor Gubernur dan Gedung Negara Grahadi, yakni dengan memeriksa barang bawaan menggunakan alat deteksi logam.

“Petugas jaga juga ditambah, jika biasanya sekali shift di Grahadi 12 orang maka sekarang 16 orang, kemudian di Kantor Gubernur biasanya 40 orang kini menjadi 45 orang untuk sekali shift,” ucapnya.

Pantauan portaltiga.com di Grahadi, pintu gerbang untuk semua kendaraan dipusatkan satu pintu, yakni di sisi gerbang timur. Pintu masuk sepeda motor di sebelah barat (samping SMA Trimurti), ditutup rapat.

Petugas Satpol PP juga memberhentikan kendaraan roda dua dan empat sebelum masuk Grahadi. Mereka diperiksa menggunakan alat deteksi logam dan meminta identitas pengunjung untuk dicatat.

Komandan Regu Satpol PP Grahadi, Matius Lembang mengaku mendapatkan tugas untuk memperketat penjagaan di pintu masuk dan berlaku selama 24 jam. “Kami mendapat perintah untuk memperketat pengamanan karena Grahadi adalah obyek vital utama. Setiap tamu yang datang harus diperiksa untuk menghindari hal tak diinginkan,” katanya.

Sebelumnya, lima ledakan beruntun terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, yakni pada Minggu (13/5) bom bunuh diri di tiga gereja berbeda, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di wilayah Ngagel, kemudian GKI Wonokromo Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Raya Arjuno.

Kemudian, Minggu malam sekitar pukul 20.00 WIB bom meledak di Rusunawa Blok B lantai 5 Kelurahan Wonocolo, Kabupaten Sidoarjo, serta pada hari ini bom meledak di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya. (bmw/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION