Escape From NII: Sumbangan Pengganti Nikmat Tuhan (11)

Penulis: Ika Maya

Pembaiatan dimulai. Kami diminta berdiri. Sang kyai berkata bahwa Allah dan para malaikat menyaksikan sumpah kami. Ia pun menuntun kami membaca ayat-ayat sumpah di teks yang ia bawa. Ada banyak poin, yang saya sudah lupa sebab saya memang tak mau mengingatnya. Isi dari sumpah itu secara keseluruhan kami diminta setia kepada NII dan patuh pada aturan yang berlaku di NII.

Maafkan Cucut yang kekanak-kanakan pak kyai, maafkan Cucut yang percaya bahw la denganbmenyilangkan dua jari di belakang punggung maka janji-janji yang diucapkan bisa diingkari. Maafkan Cucut ya, karena Cucut lebih percaya pada hati nurani Cucut yang berteriak-teriak bahwa sumpah ini tak benar.

Iya teman-teman, saya menyilangkan kedua jari saya di belakang punggung. Dan saya merasa jauh lebih baik dan lancar mengucap sumpah-sumpah yang kemudian akan saya ingkari ini. Sumpah yang panjang ini pun selesai. Berpura-pura ternyata bisa begitu melelahkan.

Kami diminta duduk kembali. Selanjutnya dangan suara serak dan berat si kyai bertutur.

Sekarang kalian sudah suci. Ingat ya kalian sudah janji di hadapan Allah dan disaksikan para malaikat. Sebuah negara bisa makin besar dan kuat juga butuh dana.

Eng ing eng!!! Benci aku!! Ibarat bencong yang sudah capek ngamen dan diusir tuan rumahnya. Jangan-jangan minta duit lagi nih. Belum usai rasa kekiku karena sudah menghabiskan 500 ribu di perjalanan kampret dan naik kereta kampret, eh sekarang dia bicara duit lagi. Mereka ini benar-benar seperti Tuan Crab!

Nah, untuk sedekahnya per bulan minim 80 ribu. Kalian dapat nikmat Allah sudah berapa lama? Udara, air, makanan semua dari mana kalau bukan dari Allah? Masa cuma 80 ribu aja kalian ga mau? 80 ribu ini minimalnya, paling baik kalau lebih. Sebagai wujud terima kasih kita kepada Allah.

Iiiihh!! Saya membayangkan bisa ke depan dan mencoret-coret mukanya pakai spidol. Duit dari mana lagi saya kalau harus setor tiap bulan. Apalah daya saya hanya seorang mahasiswi yang menggantungkan hidupnya pada beasiswa, penghasilan les privat, mentas teater, dan yang terpenting lagi belas kasihan teman. Yang ketiga itulah yang sering terjadi. Saya kan bukan mahasiswi kaya Kyai Crab! Saya kuliah kan bayar sendiri!

Sesak dada saya ingin nangis. Pelan-pelan saya cek wajah orang-orang di sekeliling. Ah mereka semua tersenyum penuh keyakinan, bahkan si pembantu itu raut wajahnya juga berubah. Duh! Sepertinya cuma saya yang mengalami kesulitan keuangan ini. Buruk! Buruk!

Sialnya, kami dipanggil satu persatu ke depan dan diminta menyebutkan nominal yang akan disumbangkan, dan dicatat! Hiks. Aaarrrgghh!! Patrick, ini Spongebob! Aku butuh bantuanmu!. Bagaimana ini? Hiks. Aha! saya kan punya jurus jitu! Ya, dua jari yang disilangkan di belakang punggung, ting! Baiklah, saya akan baik-baik saja. 100 ribu..iss…125 ribu…hiks…250 ribu…brrrr… satu persatu menyebutkan nominal yang akan disumbangkan.

Daftar nama itu sampai juga ke: Afifah bla bla bla.. hiks itu namaku. Dua jari sudah kusiapkan di belakang punggung dan kusilangkan: 85 ribu! Ucapku lantang!

Tapi… wajah Kyai Crab kecut menatapku dan begitu berat mencatatnya di buku. Ternyata sumbanganku yang paling kecil, ketawa geli saya dalam hati. Ya sudahlah yang penting selesai sudah sesi ini bagiku.

Kami cepat-cepat disuruh berkemas. Ayo waktunya balik ke Surabaya. Kami bersama mas ekstrem yang baru lagi. Kutatap wajah teman-teman seperjalananku, rautnya sudah berubah: mereka merasa terlahir kembali dan suci.

Saya celingukan mencari mas ekstrem yang mengantar kami tadi, tapi mereka sudah tidak ada. Cara ini sangatlah efektif untuk membingungkan subjek semisal tertangkap oleh aparat. Sulit melukiskan wajah-wajah mereka, karena pergantiannya begitu cepat dan kami juga sudah terlalu lelah lahir batin untuk sadar situasi.

Kami diminta naik ke dalam mobil. Belum juga mobil keluar dari rumah kami sudah diminta menutup mata kembali. Kali ini saya sudah tidak ngeyel, Jet Li juga sudah capek menari taichi dan kempyenganku juga butuh reparasi terpakai berhari-hari tanpa henti.

Kupejamkan mataku. Saya lelah. Saya ingin pulang. Apa yang terjadi, terjadilah. Namun doa tak henti melantun dalam hatiku, semoga tak ada anggota ABRI atau BIN yang menangkap kami. Selamatkanlah perjalanan pulang kami Ya Allah. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION