Escape From NII: Spirit Nama Baru, Orang Tua Dianggap Kafir (7)

Penulis: Ika Maya

Tak ada seorang pun di kelompok ini yang dipanggil dengan nama lahirnya. Semua berganti dengan nama Islamnya atau lebih tepatnya lagi nama Arabnya. Mereka ini dikondisikan secara lahir dan bathin dalam kondisi perang. Mereka selalu berhati-hati, was-was, militan, pasrah bongkokan begitu kosa kata suami saya untuk menggambarkan kepatuhan tanpa bertanya.

Begitu pula mbak Z, yang sudah berjasa memberikan pengalaman luar biasa setegang film-film agen rahasia Hollywood ini padaku. Z ternyata bukan nama aslinya.

Namaku ini artinya, pejuang perempuan Islam yang terkenal itu lho dek, ada kok di Alqur’an. Kata ustadz, aku mirip tokoh itu, makanya dek aku mau berjuang demi Islam. Katanya dengan senyum berbinar-binar.

Saya tak tahu kenapa Shakespeare bilang: What’s in a name? Apalah arti sebuah nama. Name means everything, Sir. It is a hope, it is a wish, it is an identity, it describes the whole you. And sometimes it changes someone’s life. So, if you said that name means nothing. With all respect from the bottom of my heart, please take your words back.
Sepurane rek, ada boso Inggris ben koyo pilem Hollywood.

Bagi mereka, nama baru adalah diri yang baru. Mereka merasa terlahir kembali. Mereka yg dengan semangat membara ingin menjadi lebih baik lagi, sayangnya niat indah ini harus terbalut dengan terjemahan ayat yang tekstual dan saklek.

Kalau namamu siapa dek?
Afifah tadi kata ustadznya.
Wah cantik ya, pantes dek.

Saya jawab dengan cengiran kuda. Cengiran kudaku ini efektif menjawab pernyataan atau pertanyaan yang entah harus kujawab dengan apa.

Aku sudah ga tinggal sama orgtuaku lagi dek.
Ngekoskah mbak?
Bukan, aku terpaksa ninggalkan bapakku dek. Waktu itu aku nyoba ngajak mereka hijrah, tapi bapakku malah marah. Ibuku masih mau tapi takut sama bapak. Aku diusir dek, katanya ngajiku sesat. Ya sudah aku keluar dari rumah. Dan bapakku juga ga mau mbayari kuliahku lagi. Semoga Allah memberi hidayah ke bapakku dek.
Oouh.. trus kamu ga pernah pulang lagi mbak?
Sudah ga pernah, keluargaku masih kafir dek jadi kalau di situ ya ga bisa.
Terputuslah sudah hubungan ayah dan anak. Tenang dek, nanti kalaubdi negara Islam kalau mau nikah sudah ada kyainya. Bapak kita tidak bisa jadi wali kalau dia masih kafir.

Terbayang wajah Bapakku, terbayang saya menikah dengan entah dan diwalikan entah. Apa-apaan ini?! Tapi saya masih penasaran tentang keluarganya. Trus mbak?
Ini sekarang mbakku sama keluarganya mau ikut hijrah dek, alhamdulillah. Aku sama mbakku mau membawa ibu diam-diam hijrah.

Anak tak lagi takut pada orang tuanya, istri tak lagi taat pada suaminya. Ternyata menjadi Islam bukan lagi mengucap syahadat sebagai syarat utama yang diajarkan Nabi dulu ke umatnya. Begitu mudah dan sederhananya, tanpa uang, tanpa harus memutuskan silaturahmi. Tak bisa kubayangkan remuknya hati sang Ayah yang tidak lagi dihormati dan dianggap sebagai Ayahnya lagi. Tak bisa kubayangkan sedihnya Mamakku, Tanteku, dan semua keluargaku seandainya saya membuang mereka.

Karena nama yang dihadiahkan untuknya inilah ia merasa menjadi lebih kuat menghadapi rintangan, mendaki gunung, lewati lembah bak ninja Hatori. Ia melanjutkan ucapannya dengan tenang dan dingin.

Darah kafir halal dibunuh, dek…

Grombyang!!! Kempyengan yang sudah berharmoni indah tadi mendadak jatuh berhamburan. Saya ngeri dengan pikirannya. Saya ngeri dengan tatapnya yang dingin, seandainya saya ada di film kartun pasti abab mbak Z waktu mengeluarkan kalimat keluar seperti asap freon dan membuatku membeku perlahan, tercekat, tercekik. Siapa?! Siapa?! Siapa yang mau dibunuh ini? Jangankan membunuh, burung peliharaan Mamak saya yang mati dimakan tikus saja saya tangisi seharian.

Mbak, kita mau perangkah?
Belum dek, belum saatnya tapi semua sudah disiapkan..

Ya Allah, terbayang lagi adegan pasukan Kartosoewiryo berlarian sembunyi di dalam hadapan saat diberangus oleh TNI.

Kuliahmu gimana mbak?
Kalo masalah duniawi itu ga penting dek, apalagi aku kan masih sekolah di sistem kafir.
Banyakkah mbak yang sudah gabung?
Anak Unair banyak dek, ITS juga banyak, artis-artis juga ada dek.
Siapa mbak?
Rahasia dek.

Saya semakin terlatih mendengar kata rahasia ini. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION