Escape From NII: Seandainya Saja Saya Doraemon, Mbak…(6)

Penulis: Ika Maya

Ada kesedihan dan kemarahan di dalam diri saya. Orang-orang ini, -yang katanya berjuang atas nama Islam, yang katanya menegakkan syariat Islam, yang berkostum seperti orang suci, -mengapa justru mengajarkan hal yg bertolak belakang ke orang lain.

Terbayang bagaimana Nabiku menyampaikan wahyu ke umatnya, terbayang bagaimana penderitaan dan kesabaran Nabiku atas penolakan umatnya. Hebatnya tak satupun dari Nabi dan Rasul itu yang memutuskan untuk menghabisi mereka yang tak sepaham selama mereka tak mengancam nyawa umat Islam.

Kalau sudah hijrah, adek pasti masuk surga. Mau masuk surga ga adek ini? Dia bertanya kepadaku seperti Uncle Mutu menawarkan es sirup ABCD yg menggoda itu kepada Upin Ipin.
Mau lah Pak.
Nah, mbak ini (hehe saya lupa namanya, sebut saja mbak Z) sekarang adalah kakakmu. Kalau ada apa-apa bicara sama dia, kalian sekarang sudah jadi saudara. Nanti kalau mau ngajak orang langsung aja bawa ke sini atau sama mbak Z ini.

Saya mengangguk patuh, sepatuh Temon kucingku saat kuelus-elus kepalanya.

Mbak ekstrem tadi kemudian dengan bersemangat mengajakku ke ruang belakang, seneng ga dek? Di sini enak dek, semuanya sudah seperti keluarga.
Mbak, aku lapar kalau beli makan dimana?

Masuklah perempuan lain dan sepertinya teman seperjuangan mbak ekstrem ini. Mereka bersalaman tangan dengan salam yg khas. Mata mereka seolah menyapa: hai teman seperjuangan!
Ukhti, ada makanan ga? Adek saya ini lapar. Oh ini ada tempe goreng.

Dengan sigap si mbak Z ini mengambil makanan untukku, dan memakan sepiring berdua dengannya. Ada keharuan di sini, ah seandainya ajakan mereka lebih menebarkan kasih sayang, ah mbak Z seandainya pemikiranmu bisa berubah, ah seandainya…

Makanan apapun dek kalau ada di negara Islam jadi enak kan?
Saya nyengir kuda. Tempe ya begini ini rasanya, gurih, enak, doyananku. Mau makan di dekat WC pun juga sama enaknya asal tempenya tak dicampur tai. Tapi ya sudahlah, saya ada di posisi untuk harus setuju. Di samping itu sebenarnya saya ini makannya banyak dan kalau harus sepiring berdua ditambah saya mikir dan jawab, lama-lama bisa tak kebagian saya nanti.

Kami pun pulang, dan sebelumnya diingatkan lagi. Besok, ketika bertemu dengan calon penghijrah lainnya, adek tak boleh ya memberitahukan nama dan asal daerahnya.
Rahasia lagi. Saya ini agen rahasia bukan, anggota BIN bukan, anggota CIA, KGB, MOSSAD, MI6 juga bukan tapi disuruh berahasia terus. Tekanan yang cukup besar untuk Cucut (nama panggilan saya) kecil yang malang saat itu.

Iya, Pak. Ayo mbak pulang, rengekku kala itu.

Dalam perjalanan pulang iseng-iseng kutanya latar belakang mbak Z ini. Sampai sejauh ini perjalanan saya dengannya, terus terang saya tak tahu info apapun tentangnya kecuali dia adalah mahasiswa ITS yang sedang menyusun skripsi dan mencari uang sendiri dengan menjadi seorang surveyor. Masih kuingat betul wajah, suara, dan postur tubuh mbak Z, seorang kakak dadakkanku, hingga saat ini.

Kamu dulu kaya gimana mbak hijrahnya
Matanya menerawang mengingat kembali masa-masa perjuangannya saat akan menjadi pejuang Islam dulu. Berat dek yang saya alami, tapi semua ini demi menegakkan Islam dan berjuang Allah pasti Allah melindungi.

Ah, Mbak Z seandainya saya sesakti Doraemon yang punya pintu kemana saja ingin rasanya kuhentikan angkot yang saya naiki ini dan mengajaknya ke jaman Nabi, tepatnya waktu Nabi berdakwah di hadapan umatnya dan pada saat Nabi duduk di antara sahabat memikirkan dan merundingkan aturan kenegaraan yg dimana di dalamnya disepakati bahwa kaum kafir baik harta benda, tanah, tempat ibadahnya harus dilindungi. Tahanan kafir juga diperlakukan dengan layak. Seandainya mbak Z.. seandainya kau bisa menyaksikan itu semua.
Islam itu indah, mbak Z. Islam itu tegas bukan beringas. Ah mbak Z, apalah daya saya hanya seorang Spongebob yang sudah cukup gembira bermain dengan spatulanya. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION