Escape From NII: Proklamasi Kartosoewiryo Bikin Keluar Keringat Dingin (3)

Penulis: Ika Maya

Kalau kalian bertanya bagaimana perasaan saya saat berada di ruangan kecil bersama mas ekstrem itu, Duuuaaannnggg!!!! Kempyeng itu berbunyi semakin nyaring dan ukurannya semakin besar. Begitulah kira-kira gambaran perasaan saya.

Dua teks proklamasi yang ditulis di papan sudah rampung, mata saya meluncur mulus di kedua sisi papan. Akan tetapi… Dang!!! Mata saya terhenti di sisi kanan paling bawah, disana tertulislah nama penanda tangan teks berbahasa Arab itu; Kartosoewiryo. Saya membaca lagi pelan dan dengan seksama.. ya Kartosoewiryo. Saya mulai merasa gelisah, takut, ngeri. Apakah itu Kartosoewiryo yang sama? Pemimpin pemberontakan itu? DI/TII, hukuman mati, pemberontakan…

Ah.. otak saya jadi kacau seperti Spongebob yang kebingungan membongkar berkas-berkas memori di lemari arsip dalam otaknya.. aaahh! Subhanallah walhamdulillah wala ilaa ha illaallah, Allahu akbar… Allah, lindungi hati, pikiran, dan jiwa saya. Berdiri bulu kuduk saya membayangkan bahwa saya ada di dalam sarang musuh negara.
Bagaimana kalau tiba-tiba ada anggota BIN mengetahui lokasi ini? Bagaimana kalau tiba-tiba ada penangkapan, bagaimana kalau saya jadi martir… bagaimana, bagaimana bagaimana….

Tiba-tiba ketakutan saya pelan-pelan memudar berganti dengan keberanian luar biasa untuk mendengar pemaparan mereka.

Adik tahu apa yg saya tulis? Iya itu teks proklamasi Indonesia. Kalau yang sebelah kanan?
Saya tidak tahu.
Ini adalah teks proklamasi negara Islam.

Saya pun membayangkan Kartosoewiryo membacakan teks proklamasi ini di depan pengikutnya, seperti yang saya baca kisahnya di buku pelajaran sejarah. Ia pun membeberkan perbedaan susunan teks kedua proklamasi itu.
Intinya: teks proklamasi Indonesia jauh dari unsur keislaman karena tak ada salam, tak ada basmalah, tak ada kata Allah di sana, dan lain lain.

Adik tahu Kartosoewiryo itu siapa?
Tahu mas, dia pemimpin gerakan DI/TII…(Keringat dingin saya keluar saat itu)
Ya seperti itulah yang diajarkan di sekolah, padahal beliau ini amirrul mu’minin negara Islam yang pertama.
Glek! Jadi benar saya ada di dalam sarang musuh negara. Ya Allah, lindungi saya lindungi saya jerit saya dalam hati. Dengan hati-hati saya memberanikan diri bertanya.

Jadi, NII itu juga sama dengan DI/TII?
Iya, kita melanjutkan perjuangan pemimpin kita yang sudah dibunuh pemerintah.
Kenapa ganti nama, mas?
Gerakan kita kan diam-diam, jadi agar tdk mudah tercium ya harus punya taktik.

Sumpah, baju saya saat itu basah kena keringat, padahal kipas angin sudah dipanjer di depan saya. Sepertinya si Mas mengendus keraguan saya. Dia kemudian membantu meyakinkan saya. Ayat-ayat ajakan perang mulai dipaparkan di hadapan saya. Mulai dari ayat di surat As-Shaf hingga An-Naas.

Kemudian ia memberi terjemahan baru kepada saya: Ad-diin (maaf kalo ada salah penulisan kata) bukan berarti agama seperti yang saat ini diketahui tapi dia berarti Negara.
Ulama-ulama yg menerjemahkan ini memang sengaja mengelabui masyarakat, sebab para kafir itu takut jika negara Islam berdiri. Jangan kalian tanya bagaimana bunyi kempyengan itu bergemuruh di otakku.

Dan di surat Al-Kafirun sudah sangat jelas sekali dipaparkan bagaimana Allah menyerukan kepada umat Islam untuk mendirikan negara Islam. Lakum dinnukum wa liyaddiin (sungguh maafkan kalau ada kesalahan penulisan, sy berterima kasih kalau ada yang mau mengoreksi). Ayat ini kami kenal sebagai ayat simbol toleransi umat Islam terhadap umat beragama lain, yang terjemahannya adalah: Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu.

Namun ayat ini diplintir dengan indahnya menjadi: bagiku negaraku, dan bagimu negaramu. Dan dia menyerukan saya untuk mengajak 10 orang lagi untuk berhijrah, ketika saya berhasil itu sudah sama dengan saya melaksanakan sholat…

Kempyengan di otak saya berbunyi seperti teater Cina yg suaranya cempreng melengking. Setengah mati saya membentengi diri saya, setengah mati otak dan hati saya bertarung, butuh kewarasan dan butuh keberanian.. Hunjaman ajaran radikalisme ini begitu tajamnya dan begitu mulusnya nongkrong di otak.

Di tengah usaha untuk tetap waras, saya jaga harus bisa mawas sebab saya sekarang sendiri tak berkawan dengan taruhan nyawa melayang. Saya berusaha tenang dan terus meminta pertolongan Allah, hati saya bergemuruh dengan doa. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION