Escape From NII: Pengakuan (14-habis)

Penulis: Ika Maya

Jika kalian bertanya bagaimana tampang dan perilaku para laskar NII: mereka sangat halus, santun, dan sabar sekali membimbing.

Pada saat saya berkeringat dingin diberi doktrin tentang Kartosoewiryo, mas ekstrem yang membimbingku cepat-cepat menghadapkan kipas angin dan menawarkan diri untuk memperkencang kecepatan anginnya pada. Pada saat saya merasa ragu, mbak Z dengan sigap menyediakan bahunya untuk disandari untukku. Serasa mereka bahu membahu menolong subjek dan membuatnya nyaman. Tapi, hati ini tak tenang. Ajaran yg dituturkan tak menenangkan hatiku.

Padahal, menurut Prof. Quraish Shihab, salah satu tanda sebuah ajakan itu tidak sesat adalah munculnya ketenangan di dalam hati. Saya sudah dan sempat berusaha menerima logika pemikiran mereka, tapi hati saya semakin berkecamuk.

Kembali kesantunan dan kesabaran mereka kuuji. Pasca pelarian diriku, keesokan harinya, telpon di rumahku berdering. Kebetulan Mamak yang menerima telpon tersebut, dan kemudian diberikan kepadaku. Kudengar salam hangat dari suara asing seorang laki-laki di seberang telepon.

“Assalammu’alaikum ukhti, saya ucapkan selamat karena telah bergabung di Negara Islam Indonesia”.

Lhadalah usaha pelarian diriku bak agen rahasia kemarin itu ternyata gak menghapuskan dataku di berkas mereka.

Dengan lemas kujawab terima kasih.
Ukhti, perkenalkan saya kepala desa di tempat tinggal ukhti. Nama saya bla bla bla. Ukhti Afifah masuk ke RT bla, RW bla, kelurahan bla bla kecamatan bla bla.

Baiklah, suatu tempat rahasia lagi di antah berantah yang tak ada wujudnya.

Oiya ukhti, bagaimana denhan pembayaran kekurangan sedekahnya yang 500 ribu itu?

Loalah kok ya pancet ditagih.

Janjinya katanya setelah hijrah, bisa saya ambil di rumah ukhti?

Loalah kok ya omongan janjiku diingat juga. Apes apes. Minggu depan aja ya mas.

Oh begitu ya ukhti, ya sudah terima kasih. Assalammu’alaikum.
Wa’alaikumsalam.

Uang kekurangan dan sedekah bulananku tak berhasil mereka tagih. Mbak Z diutus untuk menagihnya lewat telpon dan kuminta ia untuk datang ke rumah. Namun permintaanku enggan diturutinya. Rupanya ia takut dengan Mamakku. Beruntung sekali saya punya Mamak garang.

Hampir setahun rahasia itu masih kusimpan dari keluargaku. Saya mulai membuka rahasia tersebut saat Liputan6 SCTV meliput pencurian yang dilakukan oleh pembantu rumah tangga di beberapa daerah.

Berita itu berhari-hari ditayangkan. Dan ternyata setelah diselidiki mereka adalah korban dari perekrutan NII, demi memenuhi sedekah bulanan dan takut akan kejaran serta intimidasi dari aparat NII.

Tak kepalang terkejutnya keluarga saya. Bolak-balik tante, om dan Mamak saya bilang: Eka lain kali ngana cerita, jangan ngana badiang (badiang: diam).

Terlontar semua kebohongan yang kuakui di depan Mamakku: mulai ijin ke Pacitan (yang ternyata sebenarnya saya hijrah ke Jakarta) hingga ke paham-paham yang diajarkan kepadaku dan larangan untuk memberi tahu pada siapapun.

Tak lama kemudian bom-bom bunuh diri terjadi di tahun berikutnya, bom yang memakan banyak korban, dan semua yang melakukan adalah lelaki. Tak tahu apakah masih ada kaitannya juga dengan NII.

16 tahun sudah berlalu, bayangan kengerian itu masih bisa kurasakan. Saya termasuk orang yang beruntung karena terselamatkan.

Sekian tulisan ini dibuat tak lebih sebagai bentuk sumbangsih saya sebagai anak bangsa untuk negaraku. Terakhir: Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu.

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION