Escape From NII: Identitas Diubah, Selamat Bergabung! (5)

Penulis: Ika Maya

Senyum kelegaan kulihat di wajah ustadz paruh baya dan mbak ekstrem yang membawaku kemari. Mereka lega karena saya mau berhijrah. Orang-orang ini begitu lihai. Indoktrinisasi yang dilakukan secara perorangan ini berdampak luar biasa. Subyek tak punya opsi pemikiran lain, subjek terfokus tergiring ke pemikiran yang ingin ditanamkan. Subjek tak punya kata pilihan lain selain “iya”, secara psikologis subyek sudah kalah.

Hanya berteman dengan hati nurani dan logika sehat serta bantuan dari Allah lah, seseorang bisa lepas dari jeratan ini. Ngeri.

Bagaimana waktu 1 jam bisa menjungkirbalikkan kehidupan dan pikiran seseorang, bagaimana waktu 1 jam bisa mengubah seorang Patrick yang lugu menjadi seorang Plankton yang sinis, sadis, dan selalu merasa tak bersalah atas kerusakan yang dibuat.

Besok jam 1 siang, adek datang ke Stasiun Wonokromo. Nanti akan ada kawan yang membimbing.
Baik, Pak.

Satu semangat yang membara di hatiku kali itu adalah: teman-temanku harus kukabari tentang kelompok ini, harus bisa kucegah sebelum mereka didekati, tapi nanti kalau saya merasa cukup menyaksikan kegiatan perekrutan ini.

Oya silahkan ke ruang itu ya dek, untuk diambil datanya.

Pergilah saya ke tempat yang mirip kantor TU ini. Data asli saya diminta. Di sini identitas saya berganti. Nama saya diganti dengan nama arab, Afifah bla bla bla. Saya tak ingat karena panjang sekali. Kurang lebih nama itu berarti: pejuang wanita kecil yang cantik dan berpipi merah.

Dengan tersenyum mas pencatat data bilang padaku: nama adek ini dibuat berdasarkan orangnya (tolong, pemirsa jangan protes ya sebab kata cantik tadi bisa sangat rusuh kalau kalian ikut komentar).

Alamat saya berganti, bukan di kampung tempatku dibesarkan tapi sebuah wilayah antah berantah berikut RT-RW kelurahan kecamatan desanya dengan nama Arab yang insya Allah jikansaya cari di dalam peta asli kota manapun tidak akan ditemukan.

Nanti adek berangkat sama saya. Setelah berhijrah nanti KTP-nya akan dibuatkan, sementara ini saya siapkan dl berkasnya, tolong tanda tangan di sini.

Saya tahu bahwa saya tidak bisa mundur lagi. Saya cuma berdoa semoga ketika tempat ini terungkap, data saya tak ada lagi di sana.

Selamat bergabung ya dek!

Keluar dari ruang itu saya kembali duduk bersama mbak ekstrim dan ustadz Betawi tadi.

Nah, dek kalo bisa orang tuanya juga diajak. Keluarganya semua juga, sebab kalau mereka beoum berhijrah, mereka masih kafir, dan adek tidak bisa bersama mereka lagi.

Belum cukup mereka menteror saya sebagai calon yang tak layak masuk surga atas kekafiran saya. Mereka juga menteror hubungan saya dengan keluarga. Begitu mudahnya mereka memutuskan tali keluarga dengan gunting kekafiran. Nabi Ibrahim dulu ketika menerima wahyu atas pencariannya atas sosok Tuhan dan kemudian menyebarkan wahyu tersebut ke keluarganya dan dengan berat hati tak bisa diikuti oleh sang Ayah. Tak sekalipun oleh Nabi Ibrahim untuk menjauhi, memusuhi, meninggalkan Ayahnya yang masih kafir itu. Berbakti beliau kepada Ayahnya, berbakti beliau kepada Ibunya. Nabi Luth yang mengetahui kekafiran dan kelainan orientasi seksual istri dan anaknya tak pernah beliau menghukum mati mereka, menjauhi, memusuhi. Anak dan istrinya mati dalam kekufurannya sendiri tanpa campur tangan Nabi Luth. Nabi Muhammad, manusia mulia dan terpilih selanjutnya, ketika mendapat wahyu dan paman yg dikasihinya yang telah membesarkannya memilih untuk tetap pada agama lamanya tak juga dijauhi oleh beliau. Tak dimusuhinya pamannya itu, ia tetap berbakti dan menghormati bahkan ketika pamannya mati ia tangisi dan dimohonkan ampun kepada Allah.

Tapi, orang di depanku ini berjubah putih bersih, tak terpilih oleh Allah sebagai manusia yang mendapat wahyu-Nya, bukan manusia yang bertemu Jibril, dengan mudahnya mengajakku untuk meninggalkan keluargaku jika mereka tak sepaham. Siapa dia?! Siapa dia?! Bahkan Nabi yang mulia tak melakukan hal itu. Nabi mana yang ia ikuti, kitab mana yang ia baca, teladan siapa yang ia tiru.

Kali ini Jet Li melenggok dengan tarian taichi meninju otak saya dengan dahsyatnya. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION