Escape From NII: Diperintah Curi Uang Tante Untuk Biaya Hijrah (4)

Penulis: Ika Maya

Bagaimana dek? Mampu adek memperjuangkan syariat Islam? Sanggup untuk berhijrah?

Kempyeng yang berdentang keras tadi cukup memabukkan diriku dan membuatku mengangguk tegang. Pikiran pertamaku hanya satu: saya harus bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.

Selesai sudah sesi mengajiku yangbsingkat, padat, dan sumuk itu. Agak lega, karena sebentar lagi bs pulang dan tidur di pelukan mamakku.

Ternyata, mengajinya seperti lomba lari estafet. Saya disuruh menghadap ustadz paruh baya yang pertama kali saya temui di ruang tamu tadi.

Jadi gimana perasaan adek? Sudah siap ya berhijrah?

Ludah kutelan diam-diam, saya tak ingin ia mengetahui ketakutanku. Saya jawab dengan senyum sempurna dan anggukan penuh keyakinan. Di sini saya berterima kasih kepada senior-senior teaterku, sebab ilmu aktingnya benar-benat saya aplikasikan pada situasi ini. Padahal, lutut saya lemas, jantung saya berdegup kencang, dan pikiran saya melayang seperti seorang taichi master yang berkungfu dengan iringan kempyengan di dekat telinganya. Buruk!

Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu dimana?
Gua Hira.
Nah ini adalah Gua Hira kita, sama gelapnya kan? Nah adek tahu tidak bagaimana cara Nabi menyebarkan Islam, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan?
Dengan sembunyi-sembunyi
Nah ini yang sekarang kita lakukan dek..berdakwah dengan sirri, sembunyi-sembunyi. Adek kalau belum hijrah tak boleh bilang ke orang lain dulu, karena keislaman adek belum sempurna. Nanti kalau sudah jadi penduduk negara Islam, insyaallah kehidupan kita akan lebih baik: tak ada kemiskinan, tak ada kemaksiatan, negaranya makmur bla bla bla bla….

Pembicaraan ustadz ini mengantar ingatan saya ke ideologi marxisme dan negara utopianya, serupa tapi tak sama. Saya terus bersyahadat dalam hati, dan meminta pertolongan pada Allah. Tak pernah terpikir sekalipun bahwa diri saya akan bertemu dengan gerakan pengancam integrasi bangsa yang saya pelajari di buku sejarah dulu. Tak pernah terpikir sekalipun bahwa saya menjadi begitu berani dan dengan sengaja melibatkan diri demi memuaskan kepenasaran saya tentang kelompok ini.

Nah, adek segerakan berhijrahnya ya. Berhijrah juga butuh biaya, untuk sedekahnya sebesar Rp. 1 juta.

Hah?! 1 juta?! Saya dapat duit segitu dari mana pak?
Dengan tersenyum, si ustadz separuh tua itu bilang: tantenya katanya punya kios di Stasiun Wonokromo ya?
Duh, rupanya mbak ekstrim ini sudah cerita banyak ke ustadz itu tentang keluarga saya. Nah itu uang tante bisa diambil, tantenya kan masih kafir. Adek bantu mensucikan hartanya dengan memberikan uang tante ke negara Islam. Kasihan itu tantenya makan uang haram.

Lho..lho..lho.. Maaf pak, apa saya disuruh mencuri? Bukan mencuri tapi mensucikan. Oh oh oh.. tidak benar ini! Tidak beres ini! Nabi tak pernah memerintah pengikutnya untuk mencuri dari orang kafir. Maaf pak saya tidak bisa, saya tidak mau mencuri. Saya tidak percaya bahwa diri saya berani berkata seperti itu.

Kalau bapak mau, di tabungan saya ada uang 500rb, sisanya nti saya bayar kalau sudah pulang dari hijrah. Oya pak, memangnya kita mau kemana?
Ke Jakarta.
Astaga!! Bayangkan, di pusat kekuasaan ternyata telah berdiri negara di dalam negara tanpa diketahui.

Kempyeng kali ini berdentang dengan irama teratur… kempyeng yang bukan memekakkan namun kempyeng pengobar semangat… dang dang trang!… dang dang trang!

Saya harus berangkat,  saya harus ke Jakarta, saya harus ke tempat mereka. Bukan karena saya sepaham, tapi karna saya ingin meyakinkan diri saya bhwa dakwah ini jauh melenceng dari dakwah nabi. Saya harus melihat dengan mata kepala saya sendiri, saya harus mendengar dengan telinga saya sendiri. Jadi penolakan saya nanti bukan karena saya takut, tapi karena saya tahu bahwa ajaran mereka tidak benar.

Dengan berat si ustadz bilang, kalau cuma 500 ribu saya susah diberangkatkan. Saya meyakinkan kalau uang beasiswa saya nanti akan saya berikan sepulang dari Jakarta. Akhirnya mereka menyetujui.

Dulu, seorang Gus Dur pernah berbicara di tv dan beliau berkata: ajaran apapun yg mudah mengkafirkan orang lain adalah sesat. Ucapan Gus Dur itu terus terngiang di telingaku dan kupegang teguh. Saya sudah tak gontai, saya menjadi berani dan berharap esok segera tiba. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION