Escape From NII: Didekap Ketakutan, Pelarian dari Stasiun Pasar Turi Menuju Rumah (13)

Penulis: Ika Maya

Dentingan kempyengan semakin lama semakin keras, sekeras kakiku melangkah menuju rombonganku. Aku harus bisa melewati mereka! Aku harus bisa menuju ke pintu keluar itu!

Erat kucengkeram ransel yang terbungkus tas kresek hitam ini. Seolah-olah ia adalah satu-satunya pegangan hidupku. Kaki ini rasanya ingin segera berlari, tapi tidak! Kalau saya lari, maka saya bisa dicurigai dan tertangkap. Tenang, Cut! Tenang, Cut! Sedikit lagi, Cut!.. Ziiiing! Clash!! Akhirnya saya berdiri bersampingan tepat dengan rombonganku, seperti adegan slow motion: saya yang erat menjinjing ransel sambil menunduk tegang lewat dengan mulusnya di samping teman-teman NII yang mulutnya mangap komat kamit asyik mengobrol dalam gerakan lambat, ditambah geraian lambat kerudungku yang tertempa angin.

Zlap!! Ah! Berhasil! Berhasil! Saya berhasil melewati mereka! Hore!. Hatiku melompat-lompat kegirangan. Ya Allah, lindungi saya lagi dan terima kasih. Saya pun berjalan menuju pintu keluar dan berhasil keluar dari Stasiun Pasar Turi ini. Masih ada dua jalan raya yang harus saya sebrangi. Bisa jadi saya malah ketahuan di sini oleh mereka.

Tetap dengan kondisi waspada tingkat tinggi, saya menyeberangi dua jalan raya dan dengan segera masuk ke dalam bemo yang mangkal di depan stasiun. Lelah sekali saudara, sungguh lelah sekali. Hebat sekali para agen rahasia itu yang menyamar selama bertahun-tahun dan bisa selamat.

Nah inilah tak enaknya kalau tak punya duit. Ingin kabur dengan cepat dan selamat tapi malah naik bemo. Angkutan beroda empat ini terkenal tak ada welas asih pada penumpangnya. Ia bisa membawamu menuju ke tempat yang dalam hitungan normal hanya memakan waktu setengah jam menjadi dua jam. Itulah hebatnya sopir-sopir Bemo yg perkasa di Surabaya, no kompromi!

Pasrahlah Cucut di dalam bemo yang sepi penumpang dan panas ini. Kudekap erat tas dan kuambil air minum untuk menenangkan diri. Ayo, pak sopir kita berangkat! Ayo pak sopir! Rengekku dan tentu saja ini dilakukan di dalam hati kalau tidak saya bisa disemprot habis-habisan.

Kuawasi sekelilingku, apakah ada wajah org NII yang mengejarku? Apakah mereka sadar bahwa saya sudah pergi? Takut, aku takut. Untuk sementara, Bemo ini jd tempat perlindunganku. Untuk sementara, saya aman. Penumpang mulai ramai menaiki bemo, dan akhirnya kami berangkat.

Pelan-pelan kubuka kerudung yang menutup hidung dan mulutku. Serasa bisa bernafas lega, serasa baru sadar betapa mudah dan nikmatnya menghirup udara itu. Termangu-mangu sendiri di dalam bemo, dan pikiran Cucut kecil itu pun mulai berputar seperti film. Wajah mbak Z, suara kyai NII, seruan hijrah, pembaiatan, sampai terakhir adegan pelarian ini.

Kaki saya masih bergetar, bekas ketegangan tadi. Tak pernah kuduga bahwa saya akan mengalami ini semua. Tak pernah kuduga, hanya dalam hitungan hari saya terlibat dan menjadi saksi sejarah atas kemunculan kelompok radikal yang dulu telah diberangus pemerintah. Saya suka kejutan, tapi bukan yg seperti ini.

Ada perasaan heroik yang muncul, namun di saat yang sama ada keputusasaan besar yang muncul. Setelah ini hidupku tak akan sama lagi. Aku tak bisa bebas berjalan lagi, aku tak bisa main dengan teman-teman lagi, aku tak bisa pulang malam-malam lagi setelah latihan teater. Bagaimana kalau nanti orang-orang di dekatku diculik gara-gara aku kabur ini, bagaimana kalau aku dicegat saat ke kampus nanti.

Cucut kecil yang berusaha tangguh selama beberapa hari kemarin jadi menangis tertahan seperti anak kehilangan emaknya di mall. Saya merasa begitu sendiri dan tak tertolong. Saya ingin cerita ke seseorang tentang rahasia ini. Saya tak sanggup menyimpan rahasia sebesar ini sendirian. Terlalu berat untuk Cucut yg ceria ini, terlalu berat untuk Cucut yang masih ingin bisa sekolah tinggi ini.

Pengalaman ekstrem ini mengguncang jiwa dan ragaku, membangkitkan kengerianku dan rasa ketidak amananku, merusak karakter dan harapanku di saat itu.

Sungguh hijrah yang diyakini mereka bisa mengubah orang, ternyata memang mengubahku menjadi entahlah. Kupandangi jalanan yang kulewati. Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang ketemu mbak Z? Rengek kanak-kanakku tak henti mengiringi jalan menuju ke rumahku. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION