Escape From NII: Cuci Otak di Dalam Angkot (1)

Penulis: Ika Maya

Serangan teroris di Surabaya mengingatkan saya pengalaman sekitar 16 tahu lalu, saat mengenyam pendidikan di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Suatu ketika tak sengaja bertemu seorang kawan dari ITS di dalam angkot. Kawan ini adalah seorang surveyor, dan dia cukup agresif mendekati saya untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu.

Dia meminta alamat dan nomor telpon saya. Tak berpikir macam-macam, saya pun memberikan detail alamat dan nomor telepom. Ia pun berkunjung ke rumah. Awalnya, ia cuma menjadikan saya responden. Namun niat sesungguhnya pun muncul: ia ingin merekrut saya.

Ia mengajak saya ikut pengajian. Saya dengan jiwa muda dan semangat mempelajari Islam merasa begitu penasaran dengan ajakannya. Kemudian ia melakukan presentasi kecil di hadapan saya. Begini kurang lebih perkataannya:

Dik, kamu yakin kamu orang Islam?
Iya lah mbak saya orang Islam.
Syaratnya jadi orang Islam itu apa?
Baca syahadat.
Terus apa lagi?
Berpegang pada Al Quran dan hadits.
Bener, nah skrg adek tinggal di mana?
Indonesia
Dasar negara indonesia apa?
Pancasila.
Dasar hukumnya?
UUD 1945.
Nah, kalau adek berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945 apa masih bisa dibilang umat Islam?

Dang!!! Otak saya seperti tertabrak batu besar dan kempyengan, efek bunyi dang!! Gitu lho…

Hmm ya bukan berarti mbak, jawabku mulai gontai.
Berarti adek itu umat Indonesia bukan umat Islam, kalau mau jadi umat Islam adek harus gmn?
Ga tahu mbak, jawabku pasrah dan agak deg-degan.

Dengan sigap kawan ekstrimku ini menggambar peta konsep: dik, kalau jadi umat Islam dasar hukumnya harus pakai Al-Quran dan hadits, pemimpinnya juga harus Islam yang biasa kita sebut Amirrul Mu’minin, dan negaranya juga harus menegakkan syariat Islam dan negaranya juga harus negara Islam. Selama adek masih di Indonesia, dipimpin oleh presiden, berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945 maka adik masih Kafir.

Dang!! Dang!!! Dang!!! Kempyengan berkecamuk di otakku.

Secara logika tekstual, ia sangat betul sekali. Saya pada saat itu, hanya bisa menelan ludah sebab saya tak paham ayat tak paham hadits atau apapun untuk membantahnya. Namun, di dalam hati saya merasa ada yang salah dengan pemahaman ini. Karena penasaran yang amat sangat saya meminta ia untuk meneruskan.

Jadi adek kalau mau jadi orang Islam yang kaffah, adek harus berhijrah!!

Hah?!! Hijrah?!! Ke Madinah?!!! Saya ga ada duit mbak buat ke Madinah. Dengan senyum manis dan tatap penuh keyakinan ia berkata, bukan ke Madinah tapi ke Negara Islam Indonesia (NII). Istilah selanjutnya disebut dengan NII atau N sebelas.

Duarrr!! Kempyeng saya mbeledhos, lho memangnya adakah mbak? Kalau adek mau ayo ikut saya ngaji lebih dalam, insya Allah adek akan merasa lebih tenang dan damai karena bertemu dengan orang-orang Islam yang kaffah.

Tapi, adek ga boleh bilang siapa-siapa dulu termasuk ke keluarga.. karena nabi dulu juga berhijrah dengan diam-diam. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION