Escape From NII: Bohongi Nenek, Mulai Terbujuk Mbak Ekstrem (2)

Penulis: Ika Maya

Darah mudaku bergolak saat mendengar kata rahasia. Antara takut dan penasaran, terciptalah sensasi yang aneh di tubuhku. Seperti ada yang bertentangan, tapi pada saat yang sama seperti ada yang melompat-lompat kegirangan.

Kenapa harus rahasia mbak?
Karena musuh kita banyak di luar dek.
Ayo dek, ikut! Adik mau mati kafir?

Widiiih jelas tidak mau.. tapi… saya takut dimarahi nenek saya sebab beliau overprotective terhadap saya. Gimana cara ijinnya ini apalagi saya baru kenal kemarin dengan mbak ekstrem ini.

Saya takut dimarahin mamak (begitu cara saya memanggil nenek saya) saya mbak.
Ya, adek kan bisa bohong ke mamaknya.

Namun saya beruntung memiliki nenek yang adatnya keras seperti ini, beliau memiliki insting yang tajam. Nenek saya kebetulan bukan orang Jawa, jadi perkataannya tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa basi dan ngerinya tanpa diperhalus hehehe…

Nenek saya mengusir si mbak ekstrem ini.
Maaf ya mbak, ini sudah siang. Oras-orang istirahat, oras orang tidur. Ngana kiyapa siang-siang main di rumah orang, so kayak ndak ada hambak. Ngana nyandak bantu-bantu ngana pe mamak e? Pulang dulu mbak! Eka ini oras tidur. Ayo Eka, ngana cepat pi tidur. Bicara terus mo sampai bagabu ngana pe mulut!! (Maaf ya Mbak, ini sudah siang. Waktuny orang istirahat, waktunya orang tidur, kamu kenapa siang-siang main di rumah orang, kayak kurang kerjaan aja. Kamu ga bantu-bantu ibumu kah? Pulang dulu, mbak! Eka ini waktunya tidur. Ayo Eka, kamu cepat pergi tidur. Ngobrol terus mau sampai berbusa mulutmu!!)

Tuuh… mantep banget kan nenekku kalau bicara. Remason aja kalah pedes…

Alih-alih pergi kuliah, saya malah memilih naik angkot bersama mbak ekstrem ini ke daerah Sidoarjo. Sepanjang perjalanan mbak ekstrem ini bercerita bahwa dia begitu bahagia bergabung di pengajian ini, hatinya damai dan kedamaian itu akan lebih sempurna jika negara Islam yang dicita-citakan berhasil didirikan.

Kami berhenti di Aloha Waru. Kami pun berjalan memasuki gang dan menuju ke sebuah rumah yang jendela dan pintunya tertutup rapat. Tak ada perabotan selayaknya rumah normal di tempat itu. Jendelanya pun ditutupi dengan kain hitam. Saya duduk di atas karpet di ruang yg seharusnya menjadi ruang tamu di rumah normal pada umumnya. Ada papan putih kecil dan bangku yang biasa dipakai mengaji seperti di TPQ.

Di depan saya ada pria paruh baya yang dari pakaiannya saya menduga ia adalah ustadznya. Saya lupa wajah dan namanya yang saya ingat hanyalah sura dan logat Betawinya yang kental. Banyak orang keluar masuk di rumah itu. Ada yang berjanggut, ada yang berkemeja, ada yang berjubah, dan sebagainya.

Setiap orang yang masuk tak pernah datang sendiri. Di sampingnya selalu ada orang yang berwajah celingukan dan sedikit kebingungan, seperti saya ini. Ada dua kamar. Kamar satu diisi dengan papan putih, meja, kursi lipat. Kamar sebelahnya ada meja, kursi lipat, dan lemari arsip. Di kamar yang ada papannya saya mendengar seseorang tengah ceramah, entah apa namun ceramahnya bersifat privat. Di ruang lain, ada orang yang seperti sedang dimintai data.
Samar-samar saya mendengar pembicaraan mereka sambil meraba, kira-kira pengajian macam apa yang akan diajarkan kepada saya nanti.

Tak lama, mbak ekstrem ini mengenalkan saya ke laki-laki paruh baya tadi.

Ustad, ini alhamdulillah ada yang mau membantu perjuangan kita….

Wiiihh saya merasa seperti di dalam adegan film kemerdekaan 45. Perjuangan apa ini? Si ustadz senyum-senyum sambil menatap saya. Tak lama kemudian 2 orang keluar dari kamar yang tadi digunakan untuk ceramah privat.

Nah dek, itu sudah selesai, kamu tunggu di dalam sana.

Saya masuk ke ruang itu dan berharap tidak sendirian. Ternyata saya benar-benar sendirian di ruang itu. Tak lama masuklah seorang laki-lai berjanggut ke ruangan saya. Ia mengucap salam, dan mulai membagi papan tulis menjadi dua bagian. Di sebelah kiri ia menuliskan teks proklamasi Indonesia dan di sebelah kanan ia menuliskan teks semacam proklamasi juga namun dalam Bahasa Arab. Seiring dengan berakhirnya tulisan di papan, di sinilah proses indoktrinisasi dimulai atau dengan kata lain…pencucian otak yang sesungguhnya dimulai. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

JOIN THE DISCUSSION