Escape From NII: Baiat Berlinang Air Mata (10)

Penulis: Ika Maya

Hal yang paling sulit dilakukan dalam situasi ini adalah bertahan di dalam kewarasan dan kekritisan pikiran. Kondisi lelah, sendiri, ketakutan, terasing, kebingungan adalah hal yang mampu menurunkan kewarasan dan daya kritis seseorang.

Mereka benar-benar menguasai psikologi massa. Pemikiran lain, selain milik mereka, tak diberi nafas untuk hidup, sehingga jika kita merasa tak sepaham kita hanya mampu berdiskusi dengan hati kita sendiri.

Ya, tidak semua yang datang kemari karena sepaham, sebagian menerima karena tersudut dan akal sehatnya menyerah.

Cucut (panggilan saya) kecil yang malang itu pun sempoyongan bukan kepalang, namun naluri detektifnya tak mati. Ya seperti raja mabuk yg berusaha agar pukulannya tetap mematikan. Jantung tak pernah berdetak normal, mata selalu waspada, gerakan selalu berhati-hati. Sungguh kegiatan ini begitu melelahkan. Ibarat tentara yang berperang dan tdk tidur beberapa malam. Saya tak mau mati di sini. Mati tanpa sepengetahuan Mamakku.

Setelah mandi dan makan nasi sebungkus, saya mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan kewarasan saya untuk terus mencari tahu tanpa dicurigai. Ini tak semudah agen rahasia lakukan yang kutonton di film. Aku harus hidup! Semangat inilah yang menolong Cucut kecil untuk kuat. Saya merasa seperti Spongebob yang mendapat kehormatan untuk membantu Barnecle Boy menangkap musuh di Bikini Bottom, sayangnya tak ada Patrick yang melengkapiku.

Si pembantu asal Tuban ada bersamaku. Saya mengikutinya ketika ia berjalan menuju dapur hendak mencuci peralatan makan yang sudah dipakai tadi. Tak ada orang selain kami berdua di sini. Ah! Ini sempurna! Bu, siapa yang ngajak ibu ngaji? Ooh ada temanku mbak ya pembantu juga tapi bukan dia yang ngajar, temannya yang satu lagi. Mulus… ibu ini tak curiga dan dengan ringannya berbicara.
Ibu juga disuruh bayar ga?
Iya mbak.
Hmm berapa? 1,5 juta
Beda-beda ternyata.

Saya mau tanya lebih lanjut tapi kami telah dipanggil lagi. Ayo kalau sudah selesai kumpul dulu ke ruangan itu, waktunya mepet ini takut ketinggalan kereta. Lho?
Kita langsung pulangkah mas?
Iya sore nanti langsung balik ke Surabaya.
Jadi, cuma sehari di sini?
Iya ga perlu lama-lama dek, adek mau tidur sini?
Nggak mas, saya pikir nginep capek banget soalnya.

Pergilah kami ke ruangan yang ditunjuk tadi.
Sudah ada banyak orang di dalam. Kami duduk berhadap-hadapan dengan pria-pria paruh baya berjubah dan bersorban putih. Ada satu kyai yang sangat tua. Ia masuk terakhir dan diikuti dengan sikap hormat pria-pria lainnya. Dia sepertinya pemimpin. Logat Betawi yang sangat khas keluar dari mulutnya. Kami tak cuma berlima, ada sekitar 20 orang yang duduk bersama kami.

Tak ada yang saling mengenal, semua duduk terdiam berbicara dengan hati masing-masing. Saya memilih duduk agak di tengah deretan, agar bisa leluasa menyaksikan adegan di ruangan ini sambil merekam wajah-wajah orang yang duduk berjejer di depanku. Kami pun disuruh berdiri.

Pak Kyai tua tadi menjelaskan pada kami bahwa hari ini kami terpilih sebagai pejuang Allah dalam menegakkan negara Islam, dan hari ini kami akan di baiat.

Hari ini, kalian yang ada di ruangan ini bersaksi di hadapan Allah. Allah menyaksikan kita semua di sini. Ingat adek-adek! Kalau sudah bersumpah di depan Allah boleh dilanggar?
Tidak!. Jawab kami serempak.
Jadi kalau adek-adek melanggar sumpahnya berdosa atau tidak?
Berdosa!

Proses pembaiatan dimulai. Allah serasa ada di hadapan kami, serasa kami adalah laskar-laskar jihad yang siap maju ke medan perang, tapi siapa yg harus diperangì? Begitu tanyaku dalam hati. Otak dan hati saya sempat terbawa situasi heroik ini, apalagi pekikan takbir terus bergemuruh di ruangan ini.

Tak terasa air mataku meleleh, Allahu Rabbi jika memang ajaran ini benar yakinkan saya dengan caraMu, jika tidak, selamatkan saya dengan caraMu. Takbir ngilu kupekikkan. Meminta tolong pada Dia Yang Maha Besar, Allahu Akbar…

Saya jadi menangis ketika menulis ini, betapa tak berdayanya saya waktu itu. Allahu akbar…Allahu akbar…(bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION