Coat Tail Effect dan Number Effect Nomor Urut Pilpres, Siapa yang Beruntung?

Oleh: Mochtar W Oetomo

Pemilu 2019 akan menjadi pengalaman pertama bagi pemilih, yang harus menghadapi dan mencoblos 5 kertas suara sekaligus.

Ini tentu akan menjadi sulituasi yang rumit sekaligus sulit bagi pemilih. Bukan hanya harus menghafal jenis dan warna kertas suara Pilpres, DPD, DPR RI, DPRD I dan DPRD II. Lebih dari itu pemilih akan menghadapi PR nomor urut partai politik yang jumlahnya 16 dengan deretan daftar nama dan nomor urut caleg DPD dan DPR RI, DPRD I dan DPRD II yg jumlahnya ratusan.

Jelas Pemilu 2019 akan menjadi Pemilu paling kompleks dalam sejarah Pemilu di Undonesia.

Maka kemudian istilah coat tail effect (efek ekor jas) menjadi sangat populer dalam jagad elektoral Indonesia akhir-akhir ini. Asumsinya dengan kompleksitas Pemilu yang demikian, maka perbincangan dan persepsi publik cenderung akan lebih di dominasi wacana pilpres dibanding wacana Pileg.

Maka diasumsikan partai yang diasosiasikan dengan pasangan calon Capres-Cawapres akan jauh lebih diuntungkan dibanding partai lain, meski juga jadi partai pengusung.

Sehingga wajar jika proses koalisi dan penetapan Capres-Cawapres beberapa waktu lalu penuh drama tarik ulur hingga detik terakhir. Semua parpol ingin mendapatkan coat tail effect dari Pilpres.

Berdasar asumsi coat tail effect ini PDI Perjuangan dan Gerindra dianggap akan menangguk keuntungan elektoral, karena Jokowi diasosiasikan sebagai PDI Perjuangan dan Prabowo diasosiasikan sebagai Gerindra. Dan Gerindra dianggap makin beruntung manakala Sandiaga Uno dipilih menjadi cawapres Prabowo, karena meski sudah mengundurkan diri dari Gerindra, Sandi masih diasosiasikan oleh publik sebagai Gerindra.

Dan keberuntungan elektoral Gerindra diasumsikan akan makin berlipat-lipat pasca undian nomor urut Paslon Capres-Cawapres. Prabowo-Sandi yang dapat nomor urut 02, identik dengan nomer urut Partai Gerindra yakni 2.

Ini yang disebut sebagai number effect atau efek nomer urut. Gerindra lah yang paling diuntungkan dalam hal ini, bukan hanya akan mendapatkan dampak elektoral dari coat tail effect tapibjuga akan mendapat dampak elektoral dari number effect akibat kompleksitas Pemilu 2019 yg membuat publik cenderung akan berpikir dan bertindak sederhana dengan pola asosiasi.

Jika Prabowo-Sandi relatif memberi keuntungan berlipat pada Gerindra, maka Jokowi-Ma’ruf Amin akan memberi keuntungan elektoral pada PDIP dan PKB. PDIP akan mendapatkan dampak elektoral Jokowi-Ma’ruf Amin coat tail effect karena selama ini Jokowi diasosiasikan sebagai PDIP.

Sementara PKB akan diuntungkan dari aspek number effect, karena nomor urut Jokowi-Ma’ruf Amin yakni 01 identik dengan nomor urut PKB, yakni 1. Keberadaan Ma’ruf Amin sebagai Cawapres bisa saja menguatkan keuntungan PKB ini, karena PKB dan Ma’ruf Amin memiliki asosiasi yang relatif identik, yakni NU.

Dengan gambaran di atas maka Pemilu 2019 akan menjadi Pemilu yang penuh tantangan bagi parpol lain di luar Gerindra, PKB dan PDI Perjuangan. Parpol harus benar-benar merumuskan strategi pemenangannya dengan cermat dan matang mengingat kompleksitas Pemilu 2019 yang akan dihadapi pemilih.

Parpol harus menemukan model dan pendekatan baru ke pemilih jika ingin bertahan di parlemen, mingingat tingginya syarat parlementary threshold (PT) yakni 4%.

Disamping itu number effect Pilpres cenderung juga akan memberi keuntungan pada Caleg nomor urut 1 dan 2 karena pola asosiasi sederhana dari pemilih saat harus mencoblos 5 kertas suara dalam satu waktu.

Maka ini akan menjadi tantangan serius bagi caleg caleg di luar nomor urut 1 dan 2 untuk menemukan strategi pemenangan yang paling efektif, efesien untuk bisa melenggang ke gedung parlemen. Pemilu 2019 akan menjadi pemilu yang sangat rumit bagi para caleg karena bukan saja harus memperhatikan peta politik, kompetitor, kehendak pemilih, tapi juga harus mempertimbangkan dampak potensi elektoral Capres- Cawapres dan Parpolnya.

*) Penulis adalah Direktur Surabaya Survey Center (SSC), dan dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION