Cagub Jatim Harus Perhatikan Pemilih Yang “Dilupakan”

11/08/2017
104 Views

Portaltiga.com – Seluruh Calon Gubernur (Cagub) yang akan bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018, dituntut untuk memberikan perhatian serius daerah-daerah di Kepulauan, seperti Kepulauan Madura, Pulau Mandangin dan Bawean, Gresik. Selama ini, daerah terpencil itu seakan tidak tersentuh secara maksimal usai gelaran Pilkada.

“Selama ini, perhatian kepada masyarakat kepulauan hanya riuh jika ada gelaran Pilkada. Setelah itu, masyarakat kepulauan telantar kembali bak anak tiri, tanpa perhatian,” kata Dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam kepada portaltiga.com di Surabaya, Jumat (11/8).

Berdasarkan Puskakom Publik Universitas Trunojoyo Madura, hingga saat ini terdapat 126 Kepulauan di perairan Timur Madura ditambah Pulau Mandangin dan Bawean menjadi bagian dari wilayah administratif Provinsi Jawa Timur. Jika ditotal Jumlah pemilih diwilayah ini mencapai 323.381 pemilih.

Rinciannya, pemilih Pulau Bawean Gresik sebanyak 2 kecamatan dengan jumlah pemilih sebanyak 74.597. Pulau Mandangin Sampang dengan jumlah pemilih sebanyak 10.876 dan Kepulauan Sumenep meliputi 9 kecamatan yakni kecamatan di Kabupaten Sumenep yang dimaksud adalah Masalembu, Sapeken, Arjasa, Kangean, Nonggunung, Gayam, Gili Genting, Raas dan Talango dengan jumlah pemilih sebanyak 237.908.

“Kendati hanya 1,1% tetapi mereka selama ini mereka menjadi warga yang belum banyak mendapat keuntungan dalam banyak hal sebagai warga Jatim,” tambah peneliti Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Harus diakui, pembangunan masyarakat kepulauan Jatim selama ini, masih terkendala dan tertinggal jauh jika dibandingkan dengan wilayah daratan. Akibatnya, masyarakat kepulauan seakan menjadi anak tiri dan terabaikan dalam pembangunan Jatim. Sementara jika menilik potensi sumber daya alam, khususnya migas sangat besar.

“Sungguh paradogs, masyarakat kepulauan yang memiliki sumber daya alam, khususnya migas yang menjadi salah satu sumber utama pemasukan pembangunan Jatim, tetapi kondisi pembangunan masyarakat kepulauan masih minim. Mereka masih menghadapi banyak kendala khususnya dalam persoalan akses transportasi, pendidikan, kesehatan dan juga akses informasi, padahal semua itu harusnya penting bagi masyarakat kepulauan,” jelasnya.

Situasi ini, lanjut Surokim berimplikasi kepada partisipasi masyarakat dalam pembangunan wilayah kepulauan. Seharusnya, situasi ini tidak boleh terjadi. “Bagaimana mungkin masyarakat yang memiliki sumber daya alam begitu besar, tetapi terlupakan dalam pembangunan,” cetusnya.

Menurutnya, pilkada selama ini hanya menjadi ajang janji dan iming iming para kandidat. Dibutuhkan keseriusan dan pemihakan kepada masyarakat kepulauan ini agar mereka memiliki ikatan psikologis dengan masyarakat daratan mengingat mereka adalah warga Jatim juga.

“Contoh kecil selain problem transportasi dan listrik, fasilitas kesehatan berupa ambulans paling banyak diminta masyarakat mengingat selama ini tingkat rujukan ke rumah sakit dari masyarakat kepulauan juga semakin banyak, sementara fasilitas ambulans minim” tambah alumnus Unair Surabaya ini.

Secara administratif, masyarakat kepulauan masuk dalam wilayah Jatim. Tetapi, secara kultural sebagian masyarakat di kepulauan timur berasal dari suku Bajo, Mandar dan Bugis dari Sulawesi.

Mereka mengetahui bahwa banyak eksplorasi migas wilayah mereka, namun tidak berbanding lurus dengan fasilitas dan kesejahteraan yang mereka terima. Akibatnya, mereka selalu merasa menjadi warga Jatim nomot 2, bahkan merasa dianaktirikan.

Karena itu, sudah saatnya para kandidat yang akan running dalam pilkada Jatim memiliki pemihakan dan juga komitmen yang kuat untuk pembangunan masyarakat kepulauan. “Berilah perhatian kepada mereka karena mereka adalah warga jatim yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan warga daratan,” pungkas alumnus pondok pesantren Langitan ini. (Bmw)

Leave A Comment