Bung Karno, Nama Kompas dan Independensi Jakob Oetama

Oleh: Bambang DH

Sekitar tahun 2011 saya sempat sekilas baca artikel di Kompas online tentang pemikiran sang Begawan pers Jakob Oetama. Saat itu pendiri Kompas ini menyampaikan bila seorang wirausaha jangan hanya mengejar materi, namun juga harus memiliki idealisme. Artinya, wirausaha juga harus memberikan kontribusi bagi negara dan masyarakat.

Independensi itu juga diwujudkan Jakob dari komitmen agar medianya tidak menjadi corong politik dan penguasa. Tapi harus berimbang dan menyajikan fakta. Dalam buku Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama diungkapkan kondisi politik di era 1965 ikut melatabelakangi lahirnya Harian Kompas yang dikomandani duet Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong.

Suatu hari di bulan April 1965, Menteri/Panglima TNI AD, Letjen Ahmad Yani menelepon koleganya di kabinet, Menteri Perkebunan Frans Seda. Yani minta agar Frans Seda, saat itu menjadi Ketua Partai Katolik, mendirikan koran .Seda kemudian menemui Ignatius Joseph (IJ) Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik, PK Ojong, dan Jakob Oetama, untuk membahas ide Ahmad Yani.

Awalnya Jakob dan Ojong keberatan. Alasannya, lingkungan politik, ekonomi, dan infrastruktur pada waktu itu tidak menunjang. Dalam pembicaraan antara Jakob dan Ojong dicapai kesepakatan, koran yang akan diterbitkan bukan corong partai. Koran itu harus berdiri di atas semua golongan, oleh karena itu bersifat umum, didasarkan pada kemajemukan Indonesia. “Dia harus mencerminkan miniaturnya Indonesia,” ujar Jakob seperti tercantum dalam buku itu.

Kemajemukan dimaksud menyangkut suku, agama, ras, dan latar belakang lainnya. Dari sisi idealisme, prinsip Jakob dan Ojong tersebut bisa diterima, begitu pula dari sisi bisnis masuk akal.
Ketika pada saat itu semua koran berafiliasi pada sebuah partai politik tertentu, koran yang akan diterbitkan tidak boleh menjadi corong Partai Katolik. Setelah syarat tersebut disetujui Frans Seda dan IJ Kasimo, pembahasan pendirian koran baru dilanjutkan kembali.

Rupanya, Bung Karno yang pada saat itu menjadi presiden, mendengar rencana penerbitan koran baru sehingga kemudian bertanya kepada Frans Seda. “Frans, saya dengar jij (kamu) mau menerbitkan koran. Apa nama korannya?” Seda menjawab, “Bentara Rakyat, Bung!” Ternyata Presiden Soekarno punya ide lain soal nama surat kabar.
“Aku akan memberi nama yang lebih bagus.. Kompas! Tahu tho apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba!” Apa jawaban Frans Seda? “Baik Bung, akan saya bicarakan dulu dengan redaksi dan yayasan.” Nama itu disetujui Ojong, Jakob, dan organ yayasan.

Suatu hari saya di VIP Room bandara Soekarno Hatta diajak ngobrol Cak Roeslan (Prof. Dr. Roeslan Abdulgani). Kemudian datang Pak Jakob. Aku hanya menjadi ‘obat nyamuk’ alias saksi saja di tengah obrolan para tokoh tersebut.

Yang paling lekat dalam ingatan, saat itu Cak Roeslan puji-puji Pak Jakob masalah independensinya. Kompas dianggap satu-satunya media yang mampu menjaga independensi terhadap semua rezim sehingga bisa jadi rujukan pembaca yang ingin informasi obyektif dan berimbang. Pak Jakob saya ingat hanya menebar senyum dan menimpali obrolan Cak Roeslan dengan kalimat-kalimat ringan.

Ikut berdukacita atas wafatnya Pak Jakob Oetama. Semoga mendapat tempat terbaik disisi Tuhan YME.

JOIN THE DISCUSSION