Bappeko Surabaya Dorong UMKM Bulak Hasilkan Produk Go Internasional

Portaltiga.com – Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya mendorong masyarakat di Kecamatan Bulak untuk semakin memberdayakan UMKM agar dapat menghasilkan produk yang mampu go Internasional. Dengan menggandeng Kampus UPN, Bappeko juga memberikan bantuan memanfaatkan hasil alam agar dapat menjadi produk siap makan.

Kepala Bappeko Surabaya, Ery Cahyadi menjelaskan, untuk menuju ke pasar internasional, pihak Bappeko telah melakukan pendampingan selama tifa bulan yang bertujuan untuk mengubah mindset kawasan Bulak yang kumuh menjadi kawasan berdaya saing.

“Kalau di Bulak ini memang sudah mulai tiga bulan lalu. Saya waktu itu ketemu sama teman-teman UPN. Kami memang berusaha bagaimana mengubah masyarakat Kota Surabaya ini juga ikut partisipasi dari mahasiswa,” jelas Kepala Bappeko Surabaya, Ery Cahyadi kala ditemui dalam kegiatan gelar produk unggulan, di Kantor Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya, Selasa (28/5/2019).

Menurut Ery wilayah Kecamatan Bulak sebenarnya merupakan Kecamatan yang sangat potensial dalam mengolah hasil alam mengingat lokasinya yang berada di wilayah pantai. Sehingga hasil laut yang melimpah seharusnya mampu dimaksimalkan sehingga dapat menyentuh pasar Ekspor.

“Inilah kekuatan produknya UKM Surabaya sebenarnya. Jadi bagaimana saya selalu sampaikan ke UPN dan universitas-universitas lainnya bagaimana kita bisa membentuk kampung-kampung yang punya produk yang bisa diunggulkan,” tegas Ery.

Pria yang masuk dalam bursa Cawali Surabaya ini bermimpi nantinya Surabaya memiliki kampung-kampung yang memiliki kemampuan produksi sendiri dengan bekerjasama dengan pemkot dan Universitas agar dapat memaksimalkan ekonomi berbasis kerakyatan.

“Kita bermimpinya Universitas dan Pemerintah Kota itu bermimpi bagaimana semua kampung di Kota Surabaya itu bisa berproduksi. Sehingga perekonomian itu bisa berputar. Itu yang namanya ekonomi kerakyatan,” urainya.

Hingga kini Bappeko telah berhasil merubah 9 kampung di Kecamatan Bulak dengan melakukan pendampingan selama tiga bulan. Selama tiga bulan ini warga telah berhasil memproduksi makanan olahan laut dalam kemasan. Mulai dari keripik kepiting, risoles ikan laut, hingga hasil kerajinan dari limbah laut. (tea/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION