Awetkan Minyak dengan Markisa

Portaltiga.com, SURABAYA – Tidak dapat dipungkiri bahwa minyak goreng merupakan kebutuhan bagi masyarakat luas, mulai dari rumah tangga, restoran-restoran, penjual gorengan, hingga pedagang kaki lima. Sayang terkadang kualitas minyak yang dipergunakan tidak layak. Bahkan sering kita temui minyak tetap digunakan walaupun sudah kotor atau menghitam. Padahal minyak yang sudah kotor tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Penggunaan dalam skala rumah tangga dengan proses pemanasan yang lama dan berulang sekalipun tetap dapat menyebabkan perubahan fisik kimiawi minyak goreng. Akibat dari perubahan itu adalah asam lemak jenuh dan radikal bebas.

Kondisi itu menginspirasi tiga orang mahasiswa jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya untuk berinovasi dari kulit markisa. Adalah Jessica Angelia, Hanna Septy Pekaata, dan Stephen Utomo yang melakukan inovasi tersebut, mereka menjadikan kulit markisa sebagai pengawet alami minyak goreng. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi titik terang untuk permasalahan tersebut.

Berawal dari mengikuti kompetisi BIC (Business Innovation Center) tim ini pun terbentuk. Walaupun harus berhenti pada tahap awal mereka tidak menyerah. Dengan dukungan dari dosen pembimbing yaitu Felycia Edi Soetaredjo, Ph.D, mereka akhirnya mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dan berhasil mendapat dana hibah yang jumlahnya cukup fantastis, yakni sebelas juta rupiah.

“Awalnya kami mengusulkan ke pembimbing tentang buah markisa, dosen pembimbing pun memberi saran untuk mencoba mencari kandungan apa yang bisa dimanfaatkan dari kulit markisa. Lalu kami analisa dan ketemu kalau kulit markisa antioksidannya tinggi, lalu disarankan untuk digunakan sebagai pengawet minyak goreng,” jelas Jessica. Mereka mengaku bahwa pembuatan ekstrak ini cukup cepat. Untuk mengubah kulit markisa hingga menjadi ekstrak yang siap dicampur dengan minyak hanya dibutuhkan waktu dua hari.

“Awalnya kita mengeringkan kulit markisa untuk mengurangi kadar airnya dengan cara dijemur selama satu hingga dua hari atau dipanggang dalam oven. Selanjutnya kulit markisa yang sudah kering dikecilkan ukurannya dengan cara dihaluskan hingga menjadi serbuk. Serbuk tersebut selanjutnya dicampur pelarut yaitu etanol dengan perbandingan 1:4 selama 8 jam. Setelah itu hasil larutan dipisahkan antara cairan dan ampasnya. Cairan ini selanjutnya masuk ke dalam proses penguapan atau evaporasi menggunakan mesin rotary evaporator. Penguapan ini menghasilkan ekstrak kulit markisa yang berwarna oranye gelap yang menandakan adanya kadar antioksidan yang tinggi,” tutur Stephen menjelaskan proses pembuatan ekstrak kulit markisa ini.

Hebatnya, ekstrak kulit markisa tersebut bisa langsung dipakai dengan mencampurkannya dengan minyak goreng. Pada saat minyak dicampur dengan ekstrak, warna minyak yang kekuningan berubah menjadi lebih oranye, tetapi setelah dipakai warnanya kembali seperti minyak baru. Ekstrak kulit markisa ini bekerja dengan cara memperlambat laju oksidasi minyak, sehingga minyak tidak mudah tengik, kotor atau menjadi hitam.

“Kalau minyak biasa 5 kali penggorengan saja sudah berubah warna menjadi gelap dan kotor. Tetapi minyak yang sudah dicampur dengan ekstrak kulit markisa masih jernih walau sudah dipakai 10 kali untuk menggoreng kentang, tempe, dan tahu,” ungkap Jessica.

Banyak tantangan yang mereka hadapi dalam melakukan penelitian ini, salah satunya adalah sulitnya mencari buah markisa. “Buah markisa itu buah musiman, sehingga eksperimen ini sempat berhenti beberapa waktu karena sulit menemukan buah markisa.” Tutur Hanna yang memiliki hobi fotografi.

Walaupun sangat berpotensi, proyek ini sempat terhenti sementara karena masing-masing anggota tim sedang fokus mengerjakan skripsi. Tetapi, mereka mengaku siap apabila ada rencana untuk mengembangkan penelitian ini agar dapat dimanfaatkan untuk masyarakat luas.

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION