Analisis Semiotik Penampilan Emil Dardak saat Debat Publik

Penulis: Acep Iwan Saidi

Emil Dardak, selain sebagai Bupati Trenggalek yang sekarang menjadi Cawagub Jawa Timur, saya tidak mengenal tokoh dan pemimpin muda ini. Saya juga tidak tahu apakah dia kader partai atau bukan, dan merasa tidak perlu tahu hal itu. Saya hanya menonton Dardak melalui televisi setiap kali debat publik cagub-cawagub Jawa Timur.

Sebagai pembelajar semiotika, melalui layar televisi itu, pada Dardak saya menangkap tanda-tanda yang menjanjikan sebagai calon pemimpin masa depan. Tokoh muda ini bukan hanya cerdas, tapi genuine. Pemikirannya jernih dan artikulasinya mengalir. Ia tidak bicara konsep, tapi juga tidak menyampaikan hal-hal praktik tanpa dasar konseptual. Paparannya menunjukkan bahwa ia telah berhasil mengembalikan teori pada sumber awalnya, yakni realitas.

Oleh sebab itu, merujuk kepada Barthes, pada setiap penampilan debatnya Dardak tidak mengirim kode hermenetik yang enigmatik atau yang menimbulkan teka-teki. Alih-alih demikian, di panggung debat itu ia justeru “menelanjangi” dirinya. Ia seperti sedang meminta publik untuk melihat siapa dirinya. Dardak tidak “meng-ecoding” diri sendiri , tapi justeru melakukan “decoding”. Dengan itu saya menangkap, ia sedang berbicara dengan tubuhnya. Spontanitasnya ketika merespons lawan debatnya adalah tanda indeksikalitas dari tubuh yang berbicara sedemikian.

Pada sebuah wawancara dengan CNN TV melalui telepon, saya menyinggung juga sedikit hal di atas. “Tapi, bukankah agresivitas Dardak terlalu menekan & terkesan berlebihan”, demikian kurang lebih saya ditanya. Bagi saya, jika tidak ekspresif dan agresif justru dia akan kehilangan keasliaanya sebagai anak muda. Sepanjang dalam bahasa dan gesture yang terjaga, agresivitas pemimpin muda justeru harus didorong hingga batas terjauh. Dan saya melihat Dardak memahami hal itu.

Saya tidak mengenal Dardak, kecuali sebagai mantan Bupati Trenggalek dan cawagub Jawa Timur. Di dalam setiap debat, informasi tambahan saya dapatkan dari cara Gus Ipul menatap tokoh muda ini kalau ia sedang berbicara. Tatatapan (gaze), kata Berger, identik dengan apa yang dipikirkan.

Saya melihat mata Gus Ipul selalu tampak memikirkan hal positif tentang Dardak. Setiap Dardak bicara, Gus Ipul nyaris selalu mengirim pesan semiotik: “Dardak benar dengan apa yang dikatakannya”. Semua orang tahu, Gus Ipul adalah mantan atasan Dardak. Di sisi lain, saya juga tidak penah mendengar berita miring tentangnya.

Bagi saya, hal itu sudah cukup dijadikan alasan untuk membuat catatan pendek ini. Saya tidak berbicara dalam konteks Jawa Timur, tapi Indonesia. Saya berpendapat bahwa pemimpin muda seperti Dardak harus didorong sekaligus dikawal. Kita sedang (terus-menerus) berada dalam krisis kepemimpinan nasional dus krisis partai politik.

Dalam situasi demikian, kitalah (rakyat) yang harus “mengkader” pemimpin macam Dardak. Saya memprediksi, masa depan partai politik tidak akan semakin baik, tapi justeru sebaliknya. Jadi, sekali lagi, rakyatlah yang harus membuahi dan melahirkan pemimpinnya sendiri. Dan itu artinya kita harus mengawal bersama sejak bibit kepemimpinan itu mulai tumbuh dari bawah.

Saya tidak mengenal Dardak, dan sepertinya tidak perlu mengenalnya secara fisik dari dekat. Justru dengan melihatnya dalam jarak, Insya Allah saya bisa menilainya lebih objektif. Semoga tokoh muda lain macam Dardak terus bermunculan. Dan mari kita kawal untuk menuju masa depan negeri yang lebih baik.

Wallahu alam bis shawab! Kebenaran hanya milik Allah. Silakan dibagikan kepada yang lain jika sepakat dengan uraian di atas. Salam!

Penulis adalah pembelajar semiotika, dosen ITB

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION