Ainun Najib Akan Semarakkan “Halal Bi Halal Arek Suroboyo” YKN

Portaltiga.com – Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) menggelar “Halal Bi Halal Arek Suroboyo” sebagai refleksi sekaligus momentum kembali ke persatuan di depan Kantor SWH Center Jalan Imam Bonjol 78, Surabaya, Rabu (19/7). Yang menarik, acara tersebut mengundang MH Ainun Najib, BangBang Wetan dan Kiai Kanjeng.

 

“Bertepatan dengan momentum Idul Fitri 1438 Hijriah, Yayasan Kalimasadha Nusantara dan Nusantara.News ingin bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh Jawa Timur yang formal maupun informal,” kata Ketua Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN), Yusuf Husni kepada wartawan di Surabaya, Jumat (14/7).

 

Menurutnya, jalinan silaturahmi ini diharapkan bisa memperkuat pencerahan akan masa depan NKRI. Baik untuk tamu undangan maupun masyarakat umum yang hadir. Khususnya, bagi warga Jawa Timur yang akan menghadapi agenda politik, Pemilhan Gubernur (Pilgub). Karenanya, pihaknya juga mengundang bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur.

 

“Jadi, kegiatan ini untuk mengikat silaturahmi, agar kehidupan berbangsa dan bernegara semakin harmonis tidak terganggu oleh perbedaan sebagai rahmat Allah SWT,” ujar pria yang akrab dipanggil Cak Ucup tersebut.

 

Bagi YKN, lanjutnya, kebhinekaan adalah warisan dari pendiri bangsa yang tetap harus dirawat dan dirajut sebagai pondasi kekuatan Bangsa Indonesia. Karena itu, kegaduhan akibat dinamika ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi akhir-akhir ini tidak merembet ke Surabaya atau pun Jawa Timur.

 

“Semua elemen bangsa harus saling menghalalkan kesalahan-kesalahan yang terjadi sebelumnya dengan kedepankan kepentingan NKRI. Kita berharap apa yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta, tidak sampai berimbas ke Jatim,” tuturnya.

 

Cak Ucup mengakui acara Halal Bi Halal Arek Suroboyo ini digelar terilhami oleh semangat persatuan dalam perbedaan jadi nafas Presiden Ir Soekarno pada Hari Raya Idul Fitri 1948 ketika perpecahan anak bangsa mengancam kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamirkan tiga tahun sebelumnya. Kecamuk pemikiran dan rasa gelisah mempersiapkan diri hadapi agresi asing yang sudah di pelupuk mata, jadi pertaruhan akan masa depan republik yang wilayah kekuasaannya sudah tinggal sejengkal.

 

Ulama besar KH Abdul Wahab Hasbullah jadi rujukan Bung Karno untuk mencari cara terbaik tanpa meninggalkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Muncullah saran untuk menggelar silaturahim nasional manfaatkan momen lebaran kala itu. Namun Bung Karno meminta ada istilah lain yang menjadi refleksi menjaga kesatuan Republik Indonesia.

 

“Kala itu Bung Karno menginginkan istilah lain bukan sekedar silaturahim yang bagi umat Islam memang sunah hukumnya. Membaca sejarah saat itu, kondisinya nyaris sama persis dengan saat ini. Elite politik saling bertikai yang menguras energi dan seolah mengabaikan persoalan di depan mata. Yakni tingginya kesenjangan sosial dan ekonomi yang bisa mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” jelasnya.

 

Hasil pertemuan itu akhirnya memunculkan istilah halal bi halal, paparan istilah yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam namun bisa diterapkan dalam kondisi negara saat ini yang saling menyalahkan dan merasa benar paling benar.

 

“Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Agar sesama anak bangsa tidak berdosa harus dihalalkan,” ungkapnya. (Bmw)

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION